Balinetizen.com, Badung
Bali Fashion Parade (BFP) 2026 resmi digelar di Bali Sunset Road Convention Center (BSCC), Sabtu (30/5/2026). Mengusung tema “Living Legacy”, ajang fashion tahunan yang diselenggarakan YMM Event Organizer ini menjadi wadah kolaborasi antara fashion, budaya, UMKM, dan industri kreatif dalam satu panggung yang mengedepankan konsep warisan budaya dan keberlanjutan.
Founder sekaligus Creative Director YMM Event Organizer, Yongki Perdana, mengatakan tema Living Legacy dipilih untuk menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan yang terus hidup dan berkembang melalui kreativitas generasi masa kini.
“Living Legacy adalah tentang bagaimana budaya tetap hidup melalui kreativitas. Kami ingin menghadirkan sebuah panggung yang tidak hanya menampilkan fashion, tetapi juga membawa nilai budaya, sustainability, dan pemberdayaan UMKM lokal ke arah yang lebih luas dan relevan secara global,” ujar Yongki.
Bali Fashion Parade 2026 menghadirkan berbagai rangkaian acara mulai dari fashion parade, designer showcase, pameran UMKM dan industri kreatif, pertunjukan seni kontemporer, hingga sesi kolaborasi dan networking bagi para pelaku industri fashion.
Tahun ini, sejumlah desainer nasional dan internasional turut menampilkan karya terbaiknya, di antaranya Dana Maulana dari Danjyo Hiyoji, Ririn Yaxley, Erika Pena, Flirt, Adith, hingga Basundhari Hardy. Selain itu, desainer binaan Dekranasda Provinsi Bali seperti Taksu, Body & Mind, De’luxe, Lusi Damai, Ipong Design, dan Kembang Sari juga mendapat kesempatan menampilkan koleksinya.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Basundhari Hardy yang menghadirkan total 22 koleksi etnik glamour untuk kategori anak-anak dan dewasa. Founder Basundhari Hardy, Anak Agung Istri Agung Kresna Vindhari, mengatakan koleksi tahun ini mengangkat perpaduan unsur etnik dengan material berpayet untuk menciptakan tampilan yang mewah dan elegan.
“Kami tetap mengangkat unsur etnik yang dipadukan dengan kain payet sehingga menghasilkan tampilan yang glamor. Untuk koleksi anak-anak kami mengusung tema Srikandi yang kuat namun tetap feminin,” ujarnya.
Sebanyak 15 koleksi anak ditampilkan dalam tema Kids Team, sementara koleksi dewasa bertajuk “Paraga” terinspirasi dari karakter bangsawan keraton yang elegan dan anggun. Seluruh koleksi tersebut dikerjakan selama sekitar empat bulan.
Menurutnya, Bali memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat fashion karena didukung kekayaan budaya dan kain tenun yang menjadi identitas daerah.
“Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga memiliki kekuatan di bidang fashion. Kita memiliki banyak kain tenun dan budaya yang bisa terus diangkat ke panggung nasional maupun internasional,” katanya.
Selain Basundhari Hardy, Debby Fauziyanto, founder Debz Collection, juga tampil membawa koleksi wastra modern dengan sentuhan avant-garde. Dalam peragaan busana kali ini, Debby memadukan kain batik dengan material modern untuk menghadirkan tampilan yang lebih segar dan kontemporer.
“Beberapa koleksi yang ditampilkan merupakan pengembangan dari karya sebelumnya, namun ada juga desain baru yang menghadirkan aksesori dan detail yang lebih avant-garde serta edgy,” ujar Debby.
Debby yang telah empat kali mengikuti ajang fashion di Bali itu menilai industri fashion lokal memiliki peluang besar untuk berkembang. Ia berharap semakin banyak desainer Bali yang mendapat ruang untuk menunjukkan karya dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Saya ingin ikut mengembangkan industri fashion di Bali agar semakin banyak desainer lokal yang dikenal dan memiliki kesempatan menunjukkan potensinya. Bali memiliki banyak talenta kreatif yang tidak kalah dengan desainer dari luar,” katanya.
Selain menampilkan karya para desainer, Bali Fashion Parade 2026 juga menghadirkan pertunjukan spesial dari penyanyi nasional Santhi yang menambah kemeriahan acara.
Melalui penyelenggaraan Bali Fashion Parade 2026, YMM Event Organizer berharap ajang ini dapat memperkuat posisi Bali sebagai pusat fashion, budaya, dan ekonomi kreatif sekaligus mendorong perkembangan sustainable fashion di Indonesia.
Ajang ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi desainer, UMKM, artisan lokal, model, dan komunitas kreatif untuk tumbuh bersama dalam ekosistem fashion yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. (RED-BN)

