Balinetizen.com, Gianyar
Komunitas Jurnalis Sepak Bola Nusantara (KJSN) resmi menggelar Kick Off Journalism Camp 2026 bertema “Dari Stadion ke Ruang Redaksi” di Bali United Cafe, Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah peningkatan kapasitas jurnalis olahraga, khususnya peliput sepak bola, agar semakin profesional dan mampu beradaptasi dengan perkembangan industri media digital.
Puluhan jurnalis dari Bali dan berbagai daerah mengikuti pelatihan yang menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman, di antaranya mantan Ketua PSSI Pers sekaligus wartawan Jawa Pos Taufiq Ardyansyah, mantan Pelatih Timnas Indonesia Nil Maizar, praktisi media Nandang P. Sidik yang juga Media Officer berpengalaman, pengamat sepak bola M. Rais Adnan.
Dalam sambutannya, Taufiq Ardyansyah menilai Journalism Camp menjadi ruang belajar yang sangat penting di tengah tantangan industri media saat ini.
“Industri media sedang sakit. Di Jakarta banyak wartawan terkena PHK, saya yakin di daerah juga mengalami kondisi serupa. Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi wadah untuk meningkatkan kualitas diri agar wartawan tetap mampu bertahan,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran media sosial tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang bagi media arus utama untuk menghadirkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas, mendalam, dan memiliki nilai tambah.
Apresiasi terhadap kegiatan ini juga datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) melalui sambutan video yang diputar saat pembukaan acara.
Dalam pesannya, Kemenpora menegaskan media memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem olahraga nasional.
“Prestasi olahraga tidak hanya ditentukan oleh atlet dan pelatih, tetapi juga didukung ekosistem yang sehat. Salah satu stakeholder penting adalah media yang mampu menghasilkan pemberitaan berkualitas demi kemajuan olahraga Indonesia,” disampaikan dalam sambutan tersebut.
Kemenpora juga menekankan pentingnya pemahaman jurnalis terhadap cabang olahraga yang diliput agar informasi yang disampaikan akurat dan sesuai konteks.
Ketua Panitia Journalism Camp 2026, Diajeng Vayantri Dewi Divianta mengatakan kegiatan ini lahir dari banyaknya pertanyaan jurnalis daerah mengenai prosedur peliputan kompetisi profesional, khususnya Liga 1.
“Banyak teman-teman media mengeluhkan sulit memperoleh ID peliputan Liga 1. Setelah dipelajari, ternyata memang ada regulasi yang harus dipenuhi, mulai dari pengalaman meliput hingga aturan akses stadion. Karena itu kami menghadirkan narasumber yang memahami regulasi tersebut,” katanya.
Ia berharap Journalism Camp menjadi program rutin tahunan untuk meningkatkan kualitas jurnalis olahraga di Indonesia.
Sementara itu, pengamat sepak bola sekaligus jurnalis senior M. Rais Adnan menegaskan bahwa tugas jurnalis olahraga tidak berhenti pada pemberitaan hasil pertandingan.
Menurutnya, wartawan sepak bola harus mampu mengangkat berbagai sisi lain, seperti taktik permainan, manajemen klub, bisnis sepak bola, isu sosial, hingga tata kelola kompetisi.
“Jurnalis sepak bola hari ini dituntut memiliki kedalaman analisis. Kita tidak hanya bicara 90 menit pertandingan, tetapi juga keseluruhan ekosistem sepak bola,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan redaksi agar memilih sudut pandang yang berbeda ketika memiliki keterbatasan personel.
“Kalau SDM terbatas, jangan memaksakan meliput semua pertandingan. Pilih laga utama dan cari angle yang berbeda, bukan sekadar mengejar skor akhir,” tambahnya.
Praktisi media sekaligus Media Officer berpengalaman, Nandang P. Sidik, menjelaskan bahwa profesionalisme jurnalis juga ditentukan oleh pemahaman terhadap administrasi peliputan kompetisi.
Ia memaparkan setiap jurnalis wajib mengikuti proses akreditasi, memperoleh persetujuan klub, mengambil ID media, mematuhi pembagian zona liputan, mengikuti sesi wawancara di mixed zone, hingga konferensi pers resmi sebelum mempublikasikan berita.
“Tanpa registrasi dan ID resmi, wartawan tidak diperbolehkan masuk stadion. Itu bukan untuk mempersulit media, tetapi merupakan bagian dari regulasi kompetisi profesional,” tegasnya.
Melalui Kick Off Journalism Camp 2026, KJSN berharap lahir lebih banyak jurnalis olahraga yang memahami regulasi, menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, serta mampu menghasilkan karya yang akurat, berimbang, dan mendalam demi mendukung kemajuan ekosistem sepak bola Indonesia.(rls)

