Refleksi Raina Purnama Karo, Pemimpin yang Berempati pada Rakyat

0
105

Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, peminat sejarah Bali, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara

 

Jumat, 8 Agustus 2025, raina Purnama Karo, Icaka 1947. Dalam multi krisis dewasa ini, yang pangkal penyebabnya adalah krisis kepemimpinan yang menyebar kemana-mana, menjadi krisis: lingkungan hidup, penegakan hukum, ekonomi sampai krisis sosial kultural.

Dalam konteks ini, pemimpin yang berempati pada kesulitan sosial ekonomi rakyat, menjadi penting, sekaligus “penyembuh” awal dari multi krisis sosial yang berlangsung.

Berempati pada rakyat, tidak sekadar simpati, tetapi merasakan penderitaan rakyat, penderitaan rakyat adalah penderitaan dirinya yang dirasakan lahir batin oleh sang pemimpin.

Ambil contoh kepemimpinan Raja Cri Aji Jayapangus diperkirakan di akhir abad ke 10, pemimpin “bersinar” di era Bali Mula, kemiskinan yang terjadi di Desa dan membuat penduduk desa pindah ke Desa lain, tanggung-jawab kepemimpinan teknis di lapangan ada pada Perbekel di Desa yang bersangkutan. Tanggung-jawab moral -spiritual ada pada Sang Raja, yang menjadi beban berat bagi Raja. Sehingga di design kebijakan untuk menghindari kemiskinan di perdesaan. Prasasti Cintamani tentang Pengaturan Perdagangan Kapas, untuk melindungi penghasilan petani Kapas merupakan contohnya.

Kedua, design “sangkepan” di era Bali Pertengahan, dengan raja Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa, di Samuan Tiga yang terkenal itu, Pakira-Kira I Jro Mekabehan Mpu Kuturan Raja Kerja (jabatan setingkat Ketua DPRD Bali sekarang), Mpu Kuturan pada posisi memihak kepentingan rakyat pada saat “sangkepan” sedang berlangsung, yang dihadiri para patih dan mekele gede pemimpin Desa pakraman. Mpu Kuturan paham kondisi Desa lahir batin, karena secara periodik mengunjungi Desa. Sampai hari ini, banyak Pura di Bali punya pelinggih Menjangan Sluang, tepatnya pelinggih MENJANGAN A SAKA LUANG, pemujaan kepada Tuhan, berangkat dari penghormatan kepada Sang Mpu.

Baca Juga :  Hanura Bali Gelar Rapimda dan Rakerda, Optimis Berjaya Kembali Pada Pemilu 2024

Ketiga, Ida Dalem Waturenggong, “pesengannya lebar”, diganti dengan nilai sejarah, seorang pemimpin yang selalu pergi ke Batur, di mana ada batu yang bergerak – Batu Enggong -, pemuja Tuhan Wisnu. Cukup banyak Prasasti di Kawasan Batur, yang menggambarkan kesetiaan Sang Raja untuk mengikuti jejak pemimpin Bali sebelumnya di era Bali Mula dan Bali Pertengahan, untuk tidak saja berempati kepada rakyat tetapi setia pada kepentingan rakyat.
Cri Aji Jayapangus, Gunapriya Dharmapatni-Udayana Warmadewa, Ida Dalem Waturenggong, telah lama tiada, tetapi spiritnya tetap menggema di Bali, terutama di wilayah-wilayah yang bersinggungan dengan kepemimpinan Sang Raja. Di desa-desa Bali Pegunungan, cukup banyak tari Sakral dengan menyitir perjalanan kepemimpinan Sang Raja. Kepemimpinan yang telah menjadi mitos (dalam artian positif), menarik spirit masa lalu menjadi bagian ke kinian.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here