Jro Gde Sudibya, intelektual Bali
Hari ini, Senin, 29 Juni 2026 raina Purnama Kasa, Purnama bulan pertama dalam sistem kalender Bali. Bulan penting bermakna dalam menapaki 12 bulan waktu kehidupan mendatang.
Dari pendekatan sistem input – out put -cycle, dengan menyimak laporan trengginas dari Pansus TRAP DPRD Bali, berbasis fakta lapangan, tampak nyata terjadi krisis alam Bali dengan kerusakan lingkungan parah dan nyaris tak mampu dipulihkan. Ekspresi titik titik gelap dalam perjalanan panjang peradaban dan kebudayaan Bali.
Peradaban dan kebudayaan Bali mempunyai tolok ukur jelas tentang bagaimana semestinya Alam diperlakukan dan bahkan dimulyakan. Dalam ungkapan nilai yang kemudian sangat disayangkan sekadar jargon politik murahan: Tri Hita Karana, Sad Kerthi Loka Bali, Sat Kerthi Loka Bali. Dengan sangat bersemangat diwacanakan, tetapi kemudian dengan segera diingkari, bentuk dari “nitya wacana” dalam kehidupan. Atmosfer kehidupan dipenuhi dengan “sampah” janji-janji dari para demagog politik, dengan cirinya: banyak janji dan kemudian diingkari. Kepuasan publik semu, “dibeli” dengan politik transaksional “dasa muka” bansos dan sejenisnya. APBD tertatih-tatih menanggung janji “gombal” ini, program kesejahteraan sosial bagi publik dikorbankan.
Akibatnya, “Taksu” Kepemimpinan Bali di semua lapisan, ekskutif, legislatif, yudikatif memudar, ke titik nadir yang memalukan.
Timbul pertanyaan reflektif, kenapa fenomena umum krisis kepemimpinan ini terjadi, di tengah masyarakat yang rujukan etika moralnya jelas dan tegas, berangkat dari keyakinan hukum karma – Karma Pala-?.
Jawaban tentatifnya, menyebut beberapa, pertama, kepemimpinan tidak lagi sebagai momentum emas untuk melakukan transformasi diri dalam keberpihakan dan pelayanan publik, tetapi telah menjadi sikap “aji mumpung” untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok kepentingan di sekitar diri. Kedua, “budaya” kemunafikan merambah luas, “nitya wacana”, tidak satunya kata dengan perbuatan, telah menjadi “ketrampilan” baru, muslihat baru untuk mengelabui kepentingan publik. Ketiga, sirnamya ketakutan akan bekerjanya hukum karma, “cuek bebek” dengan karma doktrin, hilangnya rasa malu, termasuk bangga hati memamerkan jam tangan dengan harga antara Rp.5,2 M sampai Rp.8 M, dalam “samudra” orang-orang miskin di bumi Bali ini. Bali mengalami tragedi kepemimpinan. Tragis.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

