Refleksi Raina Purnama Kelima, Bali Darurat Lingkungan, “Taksu” yang Terus Memudar

0
213

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara.

 

Hari ini, Rabu, 5 November 2025, raina Purnama Kelima Icaka 1947 “nemu” raina Buda Manis Julungwangi.
Diperlukan refleksi diri di tengah Bali dihadapkan kepada darurat lingkungan pasca banjir bandang 10 September 2025.

Banjir bandang yang telah membuka kotak pandora tentang rusaknya lingkungan Alam Bali, pesisir pantai, DAS, empat danau, kawasan hutan yang melingkupi Gunung.Gunung Batur nyaris “teraniaya” karena ulah manusia yang tidak bertangung-jawab, “memuja” kapitalisme pariwisata dengan mengorbankan lingkungan alam dan juga vibrasi kesucian.

Soal waktu saja masyarakat akan menerima “getah” dari prilaku yang tidak patut dan melanggar etika lingkungan.
Darurat lingkungan, kerusakan Alam Bali yang nyaris tak terpulihkan, memberikan ekspresi dari terus memudarnya “Taksu” Bali yang dulu menjadi kebanggaan peradaban dan kebudayaan masyarakatnya. “Taksu” yang sekarang “dipertukarkan” dengan “nikmat” pariwisata, yang pembagian “kuenya” tidak adil, kesenangan niskala yang tidak imbang dengan kemerosotan peradaban dan kebudayaan, yang basis “modalnya pengetahuan niskala, spiritualitas, kedamaian yang memberikan spirit diri berkelanjutan, dalam prikehidupan seimbang “sekala lan niskala”.

Sebagaimana merujuk karya geguritan Sucita-Subudi: “Sekala lan Niskala atepang mangden mamesik, Reh Jati palingan tunggal, Hyang Wisesa ngeraganin”. dst.nya.
“Taksu”Bali yang terus memudar, akibat memudarnya spirit yang melahirkan “taksu”tsb, yang merupakan perjalanan panjang masyarakat dalam memaknai kehidupan, memberikan sumbangan terhadap peradaban dan kebudayaannya.
Memudarnya spirit dalam pengabdian bagi kepentingan bersama, dedikasi sosial, kesiapan diri untuk menjadi “ruruban gumi”.

Hilangnya keteladanan, matinya empati bagi kepentingan umum, pemimpin yang tidak lagi “ngeyasaang gumi”. Spiritualitas, bentuk luar kesucian diwacanakan, bahkan dipamerkan dengan rasa bangga, tetapi realitasnya “jauh panggang dari api”, wacana yang tidak lagi menggugah kesadaran, tidak”metaksu” dalam proses transformasi diri.

Baca Juga :  DPRD Badung Hadiri Pelantikan Pengurus KONI Badung Masa Bakti 2025-2029

Kerusakan Alam Bali yang nyaris tak terpulihkan, berbarengan dengan “social demage” yang berjalan seiring, sehingga tidak terlalu salah seorang intelektual yang masih sadar mengingatkan, dengan lontaran pertanyaan refektif: jangan-jangan Bali mengalami proses kehancuran mirip yang dialami oleh kerajaan Dwarawati di masa lalu?.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here