Sejarah Peradaban Di Muara Jambi, Keserakahan yang “Merobek” Sumatra

0
602

 

Balinetizen.com, Jambi

Muara Jambi berada di dataran tinggi, di kaki Gunung Kerinci, Gunung tertinggi di Bumi Nusantara dari Sabang di Barat dan Laut Banda di Timur.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat sosial – kebudayaan dan kecenderungan masa depan, Kamis 18 Desember 2025.

Dikatakan, sejarah mencatat sekitar abad ke 7 di era keemasan kerajaan Sriwijaya banyak pedagang, kalangan terpelajar dan para pendeta Budha berguru ke Muara Jambi.

Menurutnya, Gunung Kerinci sebut saja “Titik Tengah” dari Bukit Barisan yang “membelah” Sumatra. Bukit ini yang membentang dari Aceh – Sumatra – Lampung sekarang luluh lantak karena keserakahan manusia.

“Ternyata kemajuan iptek tidak membuat orang menjadi “wise” bijak, tetapi malahan menjadi serakah, srigala ke sesamanya, -homo homini lupus-. Keserakahan yang menghancurkan alam, kehidupan dan masa depan. Miris.,” katanya.

Menurutnya, sejarah mengajarkan, pada akhirnya manusia tidak belajar dari sejarah, keserakahan kekuasaan bisa memicu perang, bencana alam dan juga pandemi.

Sejarahwan ternama Yuval Noah Harari dalam bukunya yang prediktif dan rada kontroversial, perang, bencana alam, pandemi, akan menentukan kualitas peradaban sebuah negara bangsa ke depan, tergantung bagaimana setiap bangsa meresponsnya.

Peresmian Replika Prasasti Tembaga Nalanda Hadiah dari India di Museum Baru Muara Jambi.

Gestur khusus dari India ini merupakan tindak lanjut atas permintaan Indonesia yang disampaikan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025.

Permintaan tersebut difasilitasi oleh Kedutaan Besar India di Jakarta, dan Museum Nasional di New Delhi berperan penting dalam pembuatan replika tersebut untuk diserahkan kepada Indonesia.

Prasasti Tembaga Nalanda, yang berasal dari sekitar tahun 860 Masehi, ditulis dalam aksara Dewanagari dan bahasa Sanskerta, serta diterbitkan atas otoritas Raja Devapaladeva dari Benggala.

Baca Juga :  Hadiri Karya di Pura Dalem Jambe Kapal, Bupati Adi Arnawa Tekankan Pengelolaan Sampah Mandiri dan Program Pendidikan Gratis

Prasasti itu mendokumentasikan pemberian lima desa oleh sang raja kepada Mahavihara Nalanda, sebagai tanggapan atas permohonan Maharaja Balaputra Dewa, penguasa Suvarṇadvīpa (kini Sumatra), untuk mendukung pemeliharaan para bhiksu serta penyalinan manuskrip di biara Nalanda di Bihar, India.

Prasasti Tembaga Nalanda merupakan prasasti pertama yang terdokumentasi yang memberikan informasi mengenai Maharaja Balaputra Dewa dari Sumatra.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here