SOEMITRONOMICS, Beberapa Simpul Pemikiran Pak Mitro

0
543

 

Balinetizen.com, Jakarta

Dengan putra keduanya Prabowo Soebanto sebagai Presiden, dan kembali menyampaikan ide-ide segar tentang pentingnya pendekatan sosialistik dalam pembangunan sesuai dengan amanat konstitusi, beberapa kalangan menelisik kembali pemikiran ekonomi pembangunan Soemitro sebagai ekonom dan juga sebagai pejabat publik dalam menjalankan kebijakan di era tahun 1950’an dan dan di era tahun 1970′ an – 1980’an.

Sosok Soemitro Djojohadikoesoemo
Lahir di Kebumen Jawa Tengah, 29 Mei 1917, meninggal di Jakarta 9 Maret 2001.

Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi mengatakan, Soemitro Djojohadikoesoemo adalah Ekonom senior pendiri FEUI tahun 1950, dijuluki sebagai Bhagawan Ekonomi semenjak era tahun 1970’an.

Dan, menurut pengamat ekonomi Jro Gde Sudibya, FEUI kemudian di dunia akademik internasional, disebut sebagai “Jakarta School of Econimics”.

“Sekolah Ekonomi Jakarta dengan kekhasan pendekatannya dalam studi pembangunan, yang mengabarkan idealisme pemikiran Ekonomi Soemiro yang kemudian diikuti dan diperkaya oleh para ekonom kondang pasca beliau,” katanya.

Dikatakan, beberapa Simpul Pemikiran Pak Mitro, yang tertuang dalam banyak buku bertema ekonomi pembangunan, garis kebijakannya selama menjadi menteri ekonomi dan Menteri ristek, dalam kurun waktu 1950’an, 1970’an – 1980’an.

Dikatakan, beliau menunjukkan Arti penting perencanaan pembangunan yang disentralisasi, dengan pendekatan teknokrasi ekonomi yang ketat, dalam perencanaan dan realisasinya dalam 9 Tahun Pembangunan Semesta.

” Pembangunan semesta 9 tahun ini, dari perspektif ekonomi dinilai berhasil, ekonomi bertumbuh sekitar 6 persen per tahun, walaupun pemerintahan sering berganti di era demokrasi parlementer, kekayaan alam belum tersentuh karena negara belum punya keahlian dalam pengelolaan, aparatur negara super bersih dari KKN,” katanya.

Menurutnya, kebijakan ekonomi pembangunan, terlebih-lebih di sektor perdagangan (beliau cukup lama menjadi menteri perdagangan), harus diarahkan ke tujuan industrakisasi, menaikkan sumbangan sektor manufaktur dalam pembentukan pendapatan masyarakat- GDP -, dan memperluas kesempatan kerja. Dalam bahasa Prof. Soemitro, -economic development in to employment opportunity creation-.

Baca Juga :  Lindungi Pekerja, Wakil Bupati Buleleng Dukung Kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan

“Prof.Soemtro sangat peduli terhadap angka elastisitas kesempatan kerja, angka yang menggambarkan, jika ekonomi bertumbuh 1 persen berapa persen kesempatan kerja yang tercipta.
c.Ekonom yang percaya terhadap teori “Tricle Down Effect”, dampak menetes ke bawah, jika ekonomi bertumbuh, dengan kebijakan pembangunan yang benar, secara alamiah akan memperbaiki distribusi pendapatan dan pemerataan ekonomi,” tandasnya.

Dikatakan, beliau adalah sosok Ekonom yang bersuara amat lantang tentang “penyakit” ekonomi yang disebutnya sebagai “Hight Cost Economy”, EKONOMI BIAYA TINGGI yang menghambat: investasi, pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja produktif.

Menurutnya, Dalam permodelan ekonomitri dengan pendekatan ICOR (Incremenral Capital Out Put Ratio) di era tahun 1980’an, menurut Pak Mitro ekonomi biaya tinggi Indonesia sekitar 30 persen, dengan faktor penyebab: 10 persen karena korupsi, 10 persen karena kesalahan perencanaan pembangunan, 10 persen karena mahalnya biaya pemeliharaan dan perawatan proyek.

Dikatakan, sebagai Menteri Riset dan Teknologi di era 1980’an, Pak Mitro dengan getol menyampaikan arti penting pengembangan teknologi madya, teknologi tepat guna, istilah beliau “appropriate technology”, untuk pengembangan proses industrialisasi yang berkeadilan, dan tetap up date dengan kemajuan zaman. Di sini sangat tampak jejak pemikiran sosialistik dari Bhawagan Ekonomi ini.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here