Balinetizen.com, Denpasar-
Menyimak sungkem Gibran dan Kaesang ke Ibu Megawati Soekarnoputri di Acara Pengundian Nomor Urut Pilpres di KPU, Selasa 14 November 2023. Banyak pihak kaget menyaksikan peristiwa itu. Sungkem Gibran dan Kaesang ke Ibu Megawati Soekarnoputri, Fenomena apa ini?
Hal itu dikatakan I Gde Sudibya, aktivis demokrasi,pembelajar kebudayaan, Rabu 15 November 2023 menanggapi sungkem Gibran dan Kaesang ke Ibu Megawati Soekarnoputri.
Dikatakan, jika kita mau berpikir positf (sesuatu yang tidak mudah dalam kekumuhan politik yang sedang berlangsung), dalam masyarakat yang nyaris tidak ada rasa saling percaya (social distrust) meminjam ucapan wartawan senior Gunawan Muhammad pasca “sowan”ke Gus Mus di Rembang.
Menurutnya, secara “positive thinking” “sowan ke Ibu Mega ini bisa ditafsirkan sebagai, sikap spontan anak muda yang lugu, masih “hijau” dalam “abc”nya kehidupan, apalagi kehidupan politik yang keras, mengekpresikan sikap budaya yang lahir dari rahim budayanya sendiri, BUDAYA JAWA, yang sangat menjunjung tinggi: respek pada orang tua, penghormatan terhadap mereka yang berjasa, yang menggambarkan KETULUSAN AKAL BUDI.
Berbeda dengan keadaan politik akhir akhir ini antara keluarga Jokowi dengan Ibu Megawati. “Tamsil “lupa kacang akan kulitnya”, apalagi pengingkaran terhadap janji, adalah kehinaan dalam perspektif nilai budaya Jawa,” kata Gde Sudibya.
Menurutnya, jika hipotesis di atas benar adanya, bisa jadi ke dua anak muda ini, hanya sebatas korban dari pragmatisme kehidupan, sebut saja: kehausan akan kekuasaan, politik menghalalkan semua cara, dengan tidak menghitung lagi ongkosnya, terutama yang berhubungan dengan pembentukan karakter generasi muda dan biaya kebudayaan (cultural cost) yang mahal.
Dikatakan, fenomena sungkem Gibran dan Kaesang menjadi representasi dari sebut saja “sub kultur”, di mana anak dan masa depannya, “digadaikan” sebatas perluasan ambisi bawah sadar orang tuanya, meminjam pemikiran akhli psikoanalisa Jerman Sigmund Freud, sebatas perluasan ego orang tuanya dan “vested interest” yang mengitarinya.
“Fenomena ini banyak terjadi di masyarakat, tidak khas Gibran dan Kaesang. Dalam fenomena ini, nilai budaya Jawa yang begitu terkenal: “Ojo kesusu”, jangan buru-buru, “Ojo Dumeh”, jangan mentang-mentang, “Tepo Sliro” menjujung etika dan etiket, telah ditinggalkan,” kata I Gde Sudibya, aktivis demokrasi, pembelajar kebudayaan. (Adi Putra)

