Survei BI: Harga Rumah di Bali Masih Solid Meski Dihadang Suku Bunga KPR

0
145

Balinetizen.com, Denpasar

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan bahwa harga properti residensial di pasar primer Bali pada triwulan IV 2025 tetap menunjukkan kinerja yang solid.

Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh 1,06 persen (year on year/yoy). Meski sedikit melambat dibandingkan triwulan III 2025 yang tumbuh 1,08 persen (yoy), pertumbuhan tersebut menegaskan bahwa sektor properti residensial Bali masih berada pada jalur positif.

Kenaikan Harga di Semua Segmen Rumah
Pertumbuhan IHPR pada triwulan IV 2025 ditopang oleh kenaikan harga di seluruh jenis properti residensial, yaitu:
Rumah kecil (luas bangunan ≤36 m²) naik 1,57 persen (yoy)
Rumah menengah (luas bangunan 36–70 m²) meningkat 1,12 persen (yoy)
Rumah besar (luas bangunan >70 m²) tumbuh 0,82 persen (yoy)

“Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan dan penyesuaian harga terjadi secara merata di semua segmen pasar, mulai dari hunian sederhana hingga rumah berukuran besar,” ungkap Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bali, R. Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, Harga Bangunan menjadi Pendorong Utama.

“Kenaikan IHPR pada akhir 2025 utamanya didorong oleh meningkatnya harga bangunan,” terangnya.

Mayoritas responden dalam survei menyebutkan bahwa: harga bahan bangunan yang terus naik, dan peningkatan upah tenaga kerja, menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga jual rumah di pasar primer Bali.

“Tren ini relatif konsisten dengan kondisi pada triwulan sebelumnya,” tukasnya.

Di tengah tren harga yang meningkat, pengembang atau developer menghadapi sejumlah tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa faktor yang dinilai menjadi penghambat utama antara lain: tingkat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), keterbatasan lahan di Bali, pajak properti dan besarnya uang muka (down payment) rumah.

Baca Juga :  Tim Yustisi Denpasar Jaring 23 Orang Pelanggar di Jalan Sutoyo

Kombinasi faktor tersebut membuat daya beli sebagian masyarakat masih tertahan, meskipun minat terhadap hunian di Bali tetap terjaga.

Dari sisi pembiayaan pembangunan, survei SHPR mencatat bahwa dana sendiri developer masih menjadi sumber utama, dengan pangsa 55,9 persen.

“Selebihnya berasal dari pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman lembaga keuangan non-bank,” jelas Erwin.

Sementara dari sisi konsumen, skema KPR masih mendominasi pembelian rumah di Bali, dengan porsi mencapai 62,4 persen dari total pembiayaan.

Hal ini menegaskan peran penting sektor perbankan dalam menopang pasar properti residensial di Pulau Dewata.

Dengan pertumbuhan IHPR yang tetap positif, pasar properti residensial Bali pada akhir 2025 dinilai masih memiliki prospek yang stabil.

Namun, pengendalian biaya pembangunan serta kebijakan pembiayaan yang mendukung akan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara harga, daya beli, dan keberlanjutan pasar ke depan.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here