Balinetizen.com, Buleleng
Rangkaian Tahun Baru Imlek (Tahun Baru China) 2577 pada tanggal 17 Pebruari 2026 yang bertepatan dengan Purnama terakhir di Tahun Lunar, dalam perayaannya para Umat Tri Dharma Singaraja di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Seng Hong Bio – Ling Gwan Kiong Singaraja.
Dalam perayaannya di awali dengan perayaan ke-6 Hari Ulang Tahun bertahtanya atau shejit Yang Mulia (YM) Toa Kongco Tan Hu Cin Jin ke-153 tahun.
Ketua TITD Ling Gwan Kiong, Wirasanjaya,SH, MH yang akrab disapa Congsan menerangkan bahwa perayaan Tahun Baru Imlek di Tahun 2026, kali ini bertemakan ‘Harmoni Imlek Nusantara’ yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan keharmonisan di seluruh penjuru Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
“Dalam perayaan Tahun Baru Imlek yang agung ini, kami ingin menjalin hubungan yang harmonis di Nusantara. Dalam hal ini, kami selalu merayakan tradisi ini sesuai dengan rangkaian acara yang telah turun-temurun,” ucapnya menegaskan pada Senin (2/2/2026) saat bertemu dengan wartawan.
Dijelaskan bahwa rangkaian kegiatannya, dimulai pada tanggal 10 Februari 2026, atau tujuh hari sebelum hari raya Tahun Baru Imlek, dengan ritual ‘Mengantar Dewa Naik.’
“Ritual ini dilakukan untuk menghantarkan para Dewa-Dewi melapor kepada Sang Pencipta mengenai kejadian dan kehidupan manusia di bumi selama setahun terakhir,” jelas Wirasanjaya yang kesehariannya sebagai advokat ini.
Lebih lanjut dikatakan untuk puncak perayaan Tahun Baru Imlek akan berlangsung pada malam, pada Senin 16 Februari 2026.
“Guna mengantisipasi kerumunan dan memberikan kenyamanan bagi umat, kami dari pihak klenteng membagi sesi persembahyangan bersama menjadi tiga waktu, yakni Pukul 19.00, 20.00, dan 21.00 WITA, sebelum memasuki detik-detik pergantian tahun pada tengah malam,” urainya.
Pada momen ini, terang Wirasanjaya ada pementasan tarian barongsai untuk penyalaan petasan dan kembang api hingga sembahyang mohon petunjuk memasuki tahun kuda api,” tegasnya.
Selain itu, ujarnya lagi rangkaian akan dilanjutkan dengan perayaan Cap Go Meh pada 3 Maret 2026.
“Pada hari tersebut, akan dilaksanakan ritual Tolak Bala massal atau Chiswak mulai Pukul 10.00 hingga 13.00 WITA,” ucap Wirasanjaya.
“Ritual ini bertujuan untuk melakukan penyelarasan hidup bagi umat yang shio-nya bertentangan dengan siklus tahun ini (Tahun Kuda). Shio yang mengalami Ciong besar adalah Kuda dan Tikus, sedangkan Ciong kecil adalah Kelinci dan Ayam,” jelasnya.
Wirasanjaya menekankan bahwa Imlek merupakan perayaan tradisi masyarakat Tionghoa, bukan semata-mata perayaan agama. Hal ini diperkuat dengan Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2002.
“Imlek adalah perayaan syukur atas berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi atau musim tanam. Siapa pun agamanya, jika dia keturunan Tionghoa, ini adalah tradisinya,” tandas Wirasanjaya.
Sementara dalam perayaan shejit di Ling Gwan Kiong diawali dengan persembahyangan bersama para Pengurus TITD Seng Hong Bio – Ling Gwan Kiong Singaraja dan dilanjutkan pada pukul 18.00 WITA para umat melakukan sembahyang sujud bakti yang dirangkaikan dengan ramah tamah termasuk pementasan barongsai dan liong dari Tim Bahana Surya Dharma. GS

