Wisata Bali Kena Dampak Perang Iran – Israel, Tiket Mahal dan Rute Terputus

0
231

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

Konflik geopolitik antara Iran dan Israel mulai berdampak nyata terhadap sektor pariwisata Bali. Beberapa penerbangan internasional mengalami gangguan, termasuk pembatalan rute penting dari Timur Tengah. Pelaku pariwisata pun mulai merasakan efek penurunan kunjungan wisatawan.

Ida Bagus Gede Sidharta Putra, Tokoh pariwisata Sanur, mengakui bahwa tahun 2025 dimulai dengan perlambatan signifikan.

“Dibandingkan tahun lalu, kita stagnasi sekarang. Apalagi dengan isu perang sekarang ya. Jadi 2024 itu tahun bagus, ya saya aja di Santrian sendiri closing di atas 80-an persen. Mungkin rata-rata teman-teman sekitar 76–77 persen. Sangat bagus sepanjang tahun. Nah memasuki 2025 ini agak slow down,” ujarnya ditemui di Denpasar, Rabu (26/6/2025).

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menyebabkan perlambatan ini pertama euforia pasca-COVID-19 mulai mereda di 2025.

Kedua, harga tiket internasional masih tergolong mahal dan ketiga perang Iran-Israel yang menyebabkan jalur penerbangan terganggu

“Yang ketiga ini yang sangat berbahaya adalah perang ini. Dua hub kita akan kena: Singapura dengan Emirates dan Dubainya, Doha dengan Etihad-nya. Itu menghubungkan Eropa, Afrika, dan Asia — besar sekali, dominan sekali. Reroute bikin tidak nyaman, muter ke mana-mana, jadi lebih mahal. Orang jadi mikir ulang,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, rute penerbangan dari Eropa mulai menunjukkan penurunan signifikan, bahkan sejumlah wisatawan membatalkan kunjungannya.

“Kita masih monitoring, tapi kalau masih begini seminggu ke depan, sebulan dua bulan malah langsung akan sangat signifikan drop. Sangat signifikan.”

Ia juga menyoroti rute penerbangan dari maskapai besar seperti Turkish Airlines, Emirates, dan Etihad yang saat ini mulai terganggu atau dihentikan.

“Perjalanan pesawat yang kemarin saya lihat, ini ya Teheran sama Iran ini nggak ada loh. Bahaya sekali. Kalau dulu jalannya begini, sekarang harus muter lagi, transit lagi, lebih mahal jadinya.”

Baca Juga :  Bakamla RI Jemput 18 Nelayan Indonesia di Australia

Sebagai strategi jangka pendek, ia menyarankan agar Bali memperkuat pasar dari Australia dan wisatawan domestik.

“Kita harus pegang cadangan kita di Australia nih. Dengan satu negara aja bisa hampir sama dengan beberapa negara. Yang kedua domestiknya. Ketiga, ya staycation lah kalaupun ada duitnya.”

Sebelumnya, salah satu penerbangan yang terdampak adalah Qatar Airways QR963 rute Denpasar–Doha, yang dijadwalkan berangkat pada Selasa, 24 Juni 2025 pukul 19.20 WITA. Penerbangan tersebut dibatalkan akibat penutupan Bandara Internasional Doha karena kondisi force majeure imbas perang.

Akibat pembatalan ini, sekitar 300 penumpang terdampak dan harus menjalani proses pendataan oleh pihak maskapai di Terminal Internasional Bandara Ngurah Rai.

Sekda Bali, Dewa Made Indra, menyatakan
sudah menugaskan Kadispar untuk melakukan cek berapa penerbangan dari Doha maupun Abu Dhabi yang cancel.

“Sedang dilakukan cek dan nanti akan dilaporkan,” tukasnya.

Sementara itu, Pgs. General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Wahyudi, mengatakan bahwa Qatar Airways nomor penerbangan QR963 dibatalkan karena Bandara Internasional Doha ditutup sementara.

“Kami menyediakan area tunggu di lobi lantai 2 terminal internasional agar penumpang dapat berkoordinasi langsung dengan maskapai,” paparnya dalam keterangan resminya.

Ia memastikan situasi berjalan lancar dan kondusif.

“Per tanggal 25 Juni pukul 11.00 WITA, seluruh penumpang terdampak telah ditangani langsung oleh pihak maskapai. Tidak ada penumpukan penumpang di bandara atas pembatalan tersebut,” tandasnya.

Bandara juga mengimbau agar calon penumpang memeriksa jadwal keberangkatan secara berkala dan berkonsultasi langsung dengan maskapai masing-masing.

“Kami berharap Bandara Internasional Doha dapat segera dibuka kembali dan situasi global segera normal,” pungkas Wahyudi.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here