Balinetizen.com, Buleleng
Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah mulai diwujudkan SMP Negeri 1 Singaraja (Spensaraja)dengan langsung memanen sayur mayur yang ditanam di lingkungan sekolah, pada Rabu, 15 April 2026.
Dalam kegiatan Panen Sayur Kebun SMP Negeri 1 Singaraja dihadiri Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata bersama Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat.
Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah merupakan sinergi yang dilakukan anak didik dengan menanam bibit sayur mayur sebanyak 300 bibit yang diberikan pada tahun lalu. Dalam hal ini, para anak didik secara langsung belajar menanam, merawat dan memanen.
Kepala SMPN 1 Singaraja, Putu Ira Sita, mengatakan, kegiatan panen yang dilakukan merupakan untuk kedua kalinya. “Hasil panen yang dinikmati merupakan buah dari proses panjang yang tidak selalu mulus,” ujarnya.
Kepsek Ira Sita mengakui tantangan teknis dalam budidaya sempat menjadi kendala bagi para siswa dan guru. Namun dengan sinergi yang dilakukan bersama Komite Sekolah, upaya budidaya mampu dilakukan secara optimal.
“Perjalanan budidaya ini tidak selalu mudah. Kami sempat menghadapi tantangan dalam pemeliharaan tanaman. Namun berkat pendampingan intens dari dinas terkait serta dukungan luar biasa dari orang tua siswa, maka tanaman-tanaman ini kembali tumbuh subur dan terpelihara dengan baik hingga masa panen tiba,” jelas Putu Ira Sita.
Hal senada diungkapkan Ketua Komite SMPN 1 Singaraja, I Nyoman Sunarta yang langsung melibatkan peran orang tua yang mampu dan mengetahui budidaya sayur mayur.
“Orang tua memberikan dukungan, sehingga kita libatkan secara langsung untuk memberikan bimbingan kepada anak-anak dan para guru,” ujarnya.
Kadisdikpora Surya Bharata memberikan apresiasi dan bangga atas keberhasilan para siswa dalam mengelola kebun sekolah. Menurutnya, program ini bukan sekadar aktivitas luar kelas, melainkan sebuah solusi edukatif.
“Kami sangat bangga melihat siswa mampu belajar langsung menjadi praktisi pertanian. Ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang. Inilah solusi konkret bagi pertanian perkotaan yang bisa dimulai dari lingkungan sekolah,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan Kadistankan Melandrat yang melihat semangat anak-anak didik untuk menanam, merawat dan memanen kebun yang dikelola secara mandiri di sekolah, bahkan kedepan berharap kegiatan serupa masih dilakukan secara berkelanjutan.
“Ini menjadi sebuah contoh di sekolah juga mampu untuk melakukan penguatan ketahanan pangan melalui penanaman yang dilakukan,” sebutnya.
Dalam kegiatan yang dilakukan juga dihadiri sejumlah perwakilan dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI melalui Tim HDDAP.
Kehadiran Tim Pusat dalam prosesi panen menjadi simbol dukungan kuat terhadap gerakan membangun generasi muda yang mencintai dunia pertanian sejak dini.
Dari Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah di SMPN 1 Singaraja diharapkan kedepan dapat menjadi pilot project bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Buleleng dalam mengintegrasikan pendidikan karakter, kemandirian pangan, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem pembelajaran yang harmonis. GS

