80 Tahun Indonesia Merdeka, RENUNGAN INDONESIA

0
129

Penulis : Jro Gde Sudibya, pengamat sosial ekonomi dan kebudayaan.

Menjelang 80 tahun Indonesia Merdeka, dengan mimpi dan bahkan ilusi Indonesia Emas 20 tahun lagi, 2045, negeri ini, bangsa ini tidak kunjung berhenti di tempat krisis multi dimensi. Krisis: etika moral, kepemimpinan, ekonomi politik, lingkungan hidup dan kebudayaan dalam artian luas. Banyak pihak nyaris kehilangan kata-kata, menyusun narasi dalam mengekspresikan krisis, karena pihak di “sana” menganggap sepi krisis, menafikannya, merespons sekenanya, sekadar “omon-omon”, akibat kemelekatan akan candu kekuasaan yang nyaris menumpulkan kecerdasan, mematikan rasa empati, dan kemudian melakukan serangan balik kepada berbagai kritik yang mengingatkan.
Dalam konteks ini, menjadi menarik untuk disimak kembali ceramah dari wartawan cum sastrawan Mochtar Lubis bertajuk Manusia Indonesia, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977.
Wartawan pendiri harian Indonesia Raya yang sangat progresif di era tahun 1970’an, sastrawan pengarang novel: Jalan Tak Ada Ujung, Harimau – Harimau, Jakarta – Jakarta, mengemukakan karakteristik Manusia Infonesia berupa: SIFAT MUNAFIK, TAKUT BERTANGGUNG JAWAB, FEODAL, CENDRUNG KEPADA TAHYUL, ARTISTIK, WATAK YANG LEMAH.
Sifat munafik, ekspresi dari kemenduaan sikap, tidak satunya kata dengan perbuatan, menggambarkan senyatanya prilaku massif, sistemik dari penyalah- gunaan kekuasaan. Wacananya memegang amanah publik,tetapi faktanya mengingkari dan bahkan mengkhianati.
Takut bertanggung jawab, gambaran dari kerapuhan karakter, manusia tergantung dalam hubungan patron – klien, hidup dalam budaya ketergantungan. Fenomena ini sangat kuat di dunia birokrasi, sehingga efektivitas, inovasi birokrasi menjadi sulit dilakukan.
Feodal, dalam konteks politik kontemporer terekspresikan dalam politik dinasti, fenomena “anak haram” konstitusi, budaya KKN, prilaku bermain aman, cari selamat dan “mecik manggis”.
Cendrung kepada tahyul, menafikannya penalaran, kemampuan akal budi, berorientasi pada masa lalu yang tidak akan pernah kembali.
Artistik, punya kepekaan dan naluri berkesenian, yang menurut Mochtar Lubis sangat penting sebagai basis pengembangan inovasi masyarakat.
Watak yang lemah, watak yang rapuh, tidak punya prinsip, mudah goyah oleh kepentingan sesaat, dan atau “vested interest” di lingkungannya.
Akronim Konoha yang berelasi dengan kolusi, nepotisme, “hidden agenda” – agenda terselubung, gambaran dari sikap: munafik, takut bertanggung-jawab dan watak yang lemah.
Dalam pandangan wartawan cum sastrawan ini, karakter manusia Indonesia di atas, dalam bahasa yang sangat disederhanakan, karena pendidikan dan pengajaran tidak mampu melahirkan MANUSIA – MANUSIA MERDEKA yang berani memutuskan berdasarkan keyakinan, berbasis kekuatan dan keberanian akal budi. Fenomena umum yang muncul menurut wartawan ini, manusia-manusia yang begitu mudah ditundukkan oleh aneka ragam kepentingan, tidak berdaya dan bahkan menikmati ketergantungan tsb. Feomena Manusia “terjajah”, pasca 80 tahun Indonesia Merdeka.
Narasi singkat di atas, tentang karakter manusia Indonesia pantas menjadi renungan menyambut perayaan proklamasi kemerdekaan.

Baca Juga :  Law Firm Togar Situmorang Kawal Sidang Gugatan Harta Waris di PN Bandung, Siap Hadirkan Saksi Kunci

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here