Bali Blackout, Pemerintah Pusat Gaspol Proyek LNG Sidakarya

0
261

 

Balinetizen.com, Denpasar 

Bayang-bayang kegelapan sempat menyelimuti Bali pada awal Mei 2025. Dalam hitungan jam, Pulau Dewata lumpuh total akibat blackout besar-besaran. Pemadaman listrik yang terjadi dari sore hingga malam hari membuat aktivitas masyarakat dan pelaku pariwisata terganggu parah.

Peristiwa ini kembali menyoroti ketergantungan Bali terhadap pasokan listrik dari Pulau Jawa melalui kabel bawah laut. Pertanyaan klasik pun kembali mengemuka: sampai kapan Bali bergantung pada pasokan energi dari luar pulau?

Menanggapi krisis listrik ini, pemerintah pusat melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Nurofiq, langsung turun tangan. Pada Selasa, 27 Mei 2025, ia meninjau langsung lokasi rencana pembangunan Terminal LNG Sidakarya di Denpasar.

“Bali sebagai destinasi pariwisata dunia harus mampu mengembangkan energi bersih terbarukan. Bukan hanya bersih dari sampah, tapi juga mandiri secara energi agar tak tertinggal dari kompetitor global,” ujar Menteri Hanif di hadapan media dan tokoh masyarakat Sidakarya.

Namun ia mengingatkan, pembangunan Terminal LNG tak boleh dilakukan sembarangan. Proyek ini harus memenuhi seluruh aspek kajian lingkungan, sosial, dan keselamatan.

“Kita harus pastikan semua kajian dilakukan secara menyeluruh, termasuk dampak terhadap terumbu karang, ekosistem laut, dan kesehatan masyarakat. Proyek ini harus memberi manfaat, bukan menciptakan risiko baru,” tegasnya.

Menteri Hanif juga menekankan pentingnya memasukkan kajian kesehatan dalam dokumen AMDAL. Jika mitigasi risiko dijalankan dengan baik, proyek ini dinilai bisa menjadi solusi strategis untuk menjawab krisis energi, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan menjaga keberlanjutan lingkungan Bali.

Sinyal positif dari pemerintah pusat ternyata juga mendapat sambutan dari masyarakat lokal. Jero Bendesa Adat Sidakarya, Ketut Suka, mengungkapkan bahwa sejak 2022 telah dilakukan paruman desa untuk membahas proyek Terminal LNG, dan mayoritas warga mendukung pembangunan.

Baca Juga :  Hadiri Perayaan Natal 2025, Wagub Giri Prasta Ajak Semua Tokoh Umat Solid dan Jaga Kerukunan

“Kami menyetujui rencana ini karena melihat banyak manfaat nyata. Tapi pembangunan harus dilakukan dengan penataan yang holistik—bukan hanya membangun infrastruktur, tapi juga menjaga kenyamanan warga,” katanya.

Dengan lampu hijau dari Kementerian LHK, proyek Terminal LNG Sidakarya kini bergerak dari sekadar wacana menuju realisasi. Blackout yang sempat melumpuhkan Bali kini menjadi momen reflektif, memicu pergeseran besar dalam cara pandang terhadap energi.

Penolakan yang dulu keras kini mulai surut. Kesadaran akan kebutuhan akan energi mandiri dan ramah lingkungan tumbuh di kalangan masyarakat dan pemangku kepentingan. Terminal LNG dinilai dapat menjadi jembatan menuju kemandirian energi Bali, tanpa meninggalkan komitmen terhadap lingkungan hidup.

Peristiwa blackout Bali 2025 memang membawa kegelapan, tetapi juga menyalakan cahaya perubahan. Dengan sinergi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat adat, masa depan energi Bali kini mulai diarahkan untuk lebih bersih, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here