Balinetizen.com, Jakarta
Elegi Kemiskinan, Kemiskinan yang Banal, di Negeri yang Seharusnya Makmur “Gemah Ripah Loh Jinawi” . Rakyat Indonesia seharus tidak miskin jika melihat sumber daya alamnya yang begitu melimpah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik, Sabtu 14 Juni 2025 menanggapi laporan Bank Dunia tentang kemiskinan di Indonesia.
Laporan Bank Dunia yang termutahir, bertema: “Update to the poverty and and inaquality platform”, edisi Juni 2025, dengan menentukan garis kemiskinan, pengeluaran per orang per hari Rp.49,244, penduduk miskin di Indonesia berjumlah 68,2 persen, dari total penduduk tahun 2024 sebanyak 285,1 juta orang.
Dikatakan, dalam standar Bank Dunia, penduduk miskin Indonesia 194,4 juta. Bank Dunia, merubah ukuran garis kemiskinan, karena Indonesia berdasarkan pendapatan rata-rata per kapita, telah masuk ke kelompok negara berpenghasilan menengah ke atas. (Baca ; Tajuk Rencana Kompas, bertema Tolok Ukur yang Sensitif, 12/6/2025).
Menurutnya, berdasarkan tolok ukur terbaru Bank Dunia ini, angka garis kemiskinan, 2 orang dari 3 orang Indonesia tergolong miskin, gambaran dari kegagalan penguasa dalam mengelola negeri, jika dipergunakan tolok ukur konstitusi : “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Menurut Jro Gde Sudibya, Laporan Bank Dunia memberikan gambaran tentang: ketimpangan pendapatan yang memalukan, ketidak-adilan yang menghina rasa keadilan, terutama akibat dari KKN antara elite penguasa dengan oligarki, yang massif dan bahkan “menggila” terutama dalam 10 tahun terakhir.
“Penguasa dan kroninya, “vested interest” di sekitarnya, puluhan pengusaha oligarki bak mendapat “durian runtuh”, dari sebut saja “menjarah” kekayaan negeri, tetapi puluhan juta warga mengais rezeki dari hari ke hari, sekadar untuk bisa bertahan hidup,” katanya.
Menurutnya, benar apa yang disampaikan Soekarno di masa revolusi dulu, “penghisapan manusia oleh manusia”, dalam retorika Soekarno dalam bahasa Perancis “exploitation d’lome parlome”.
“Benar apa yang pernah disampaikan oleh pakar manajemen dunia Peter F Drucker, kekayaan sumber daya alam bagi sebuah negara, bisa menjadi berkah dan bisa melahirkan kutukan,” kata Jro Gde Sudibya.
Sebaliknya, lanjut Jro Gde Sudibya, bisa menjadi berkah kesejahteraan bagi seluruh warganya, jika dikelola dengan baik, sesuai dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Bisa menjadi KUTUKAN, jika elite penguasanya korup, kekayaan alamnya “dijarah”, lingkungan rusak berat, mayoritas warganya tetap miskin dan menderita ketidak-adilan sosial,” katanya.
Dikatakan, Ironi di negeri yang semestinya makmur, dalam kosa kata kearifan bumi Nusantara “gemah ripah Loh jinawi”.
Tetapi faktanya, lanjut putra Buleleng ini bahwa kemiskinan menjadi elegi, “dipertontonkan” secara banal, kemudian suara kelompok ini “dibeli” dengan menggunakan uang negara untuk tujuan pelanggengan kekuasaan. Kekayaan alam negara telah menjadi kutukan bagi warganya.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

