Risiko Perang Teluk, Skenario Terburuk Ekonomi Indonesia Kelangkaan BBM

0
315

Balinetizen.com, Jakarta –

 

Akibat Perang Teluk, pasokan energi dunia lewat selat Hormuz tersumbat, menyumbat pasokan 20 persen energi dunia.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan, Selasa 10 Maret 2026.

Dikatakan, kenapa tersumbat? Karena Indonesia membeli minyak dari kawasan Timur Tengah sekitar 19 persen dari impor harian minyak mentah yang berjumlah 1,6 juta barel per hari. Pasokan LNG dari Qatar juga tersumbat, yang memengaruhi pasakon LNG terutama bagi China pembeli terbesar.

“Akibatnya bagi perekonomian dalam negeri, harga minyak mentah di pasar dunia naik tinggi, telah mencapai 115 dolar AS per barel, sedangkan asumsi dalam perhitungan subsidi BBM dalam APBN 2026 70 dolar AS per barel,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, dalam perhitungan permodelan ekonomi, jika harga minyak naik sampai 125 dolar per barel, subsidi BBM adanya meningkat Rp.350 T, membuat APBN tahun 2026 mengalami defisit melampaui ketentuan UU, 3 persen dari GDP.

Menurut Jro Gde Sudibya, naiknya harga BBM akan mendorong inflasi, karena biaya produksi yang naik, cost push inflation. Kenaikan ini bisa menimbulkan kepanikan pasar, harga naik lebih tinggi, run away inflation, inflasi karena psikologi.

“Ada Risiko kelangkaan BBM, karena stock BBM menurut Menteri Bahlil yang dimiliki Pertamina hanya untuk 20 hari operasional. Sedangkan perkiraan Perang Teluk 4 sampai 5 minggu dan bahkan lebih lama. Sedangkan di sisi lain, pemerintah tidak punya cadangan minyak mentah dalam kondisi Perang,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, Risiko kembar, kenaikan inflasi tinggi, kemungkinan kelangkaan BBM, dalam kondisi ekonomi yang tertekan, angka kemiskinan tinggi, PHK dan pengangguran tinggi.

“Di mana 10 juta kelas menengah turun kelas, bertemu dengan tingkat kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola ekonomi terus menurun, membuat risiko politik dari krisis ekonomi akan terus membesar,” katanya.

Baca Juga :  Demokrat Bali Apresiasi Himbauan MenPAN RB Agar ASN Netral

“Ini PR besar yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo di hari-hari mendatang,” tambah Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here