Banjir Bandang di Bali tidak Cukup Mulat Sarira, Perlu Langkah Progresif Penyelamatan Alam Bali

0
331

 

Balinetizen.com, Denpasar

Banjir Bandang yang terjadi pada 10 September 2025 tidak Cukup dengan Mulat Sarira, Perlu Langkah Progresif Penyelamatan Alam Bali.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat sosial ekonomi dan kecenderungan masa depan, Jumat 19 September 2025 di Denpasar.

Dikatakan, banjir bandang ini telah melahirkan kerugian luar biasa, manusia, harta, dan bahkan Pura.

“Kerugian moral- material luar biasa, belum kita bicara kerugian sosial ekonomi dan psikologi, akibat macetnya gerak roda perekonomian dan kehidupan di hari-hari mendatang,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, banjir bandang ini memberikan hikmah “kotak pandora, tentang rusak parahnya lingkungan. Sebanyak 48 ribu tutupan hutan di DAS Tukad Ayung telah beralih fungsi, dari daerah hutan serapan air menjadi properti wisata, yang rawan tinggi menghasilkan air bah menuju Sungai Ayung.

“DAS yang lain diperkirakan mempunyai “nasib” yang sama dengan derajat keparahan yang berbeda. Bali mengalami darurat lingkungan di tengah krisis iklim, dengan risiko bencana hedrologi yang semakin besar dengan frekuensi semakin sering,” katanya.

Dikatakan, Risiko besar lingkungan di atas tidak cukup dengan sikap “mulai sarira”, diperlukan “penunggalan bayu sabda idep” terutama ke pejabat publik yang bertanggung-jawab untuk mengundurkan diri karena telah terbukti gagal dalam kepemimpinan dalam artian luas, yang hasilnya lingkungan Bali mengalami kerusakan parah.

“Diperlukan sikap Kesatrya Dharma, berani bertanggung-jawab akan kesalahannya,” katanya.

Menurutnya, perlu disusun agenda penyelamatan lingkungan Bali yang bersifat segera, dengan program kerja:

a.Menyusun agenda penegakan hukum kepada mereka yang diduga bertanggung-jawab.

b.Pemulihan DAS Tukad Ayung dan DAS yang lain sebagai kawasan hutan serapan berfungsi lindung, reboisasi: hutan, dan penyelamatan kawasan pesisir pantai.

Baca Juga :  Jadi Partner Kesehatan, BIMC Siloam Nusa Dua Dukung Kejuaraan Bulu Tangkis Internasional Indonesia Badminton Festival 2021

“Sejarah selalu mengajarkan, krisis baca tesa selalu melahirkan antitesa dan kemudian sintesa yang menggambarkan kecerdasan manusia merespons krisis dan menyelamatkan peradaban,” kata Jro Gde Sudibya.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here