Ilustrasi
Balinetizen.com, JembranaÂ
Seekor sapi milik salah satu warga di Banjar Banyubiru, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, positif rabies. Sejak awal Januari sampai pertengahan bulan Juli 2023 ditemukan dua ekor sapi positif rabies di Kabupaten Jembrana, Bali.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana drh I Wayan Widarsa, Senin (17/7/2023), mengatakan, kasus positif rabies pada sapi berawal dari laporan warga pada Selasa (11/7/2023).
Pemilik sapi menyampaikan bahwa ternak sapinya berprilaku aneh serta tidak mau makan. Tidak hanya itu, sejak 9 Juli lalu, sapi peliharaannya juga kerap mengamuk dan dari mulutnya keluar air liur disertai busa.
“Waktu itu petugas Medik Veteriner (Medikvet) Kecamatan Negara langsung turun ke lapangan. Dari pengecekan awal ada dugaan mengarah ke rabies karena gejalanya hampir sana seperti rabies pada anjing,” ujar Widarsa.
Disinyalir rabies, pemilik sapi diminta untuk tidak menjual sapi peliharaannya sambil menunggu perkembangan selanjutnya hingga 14 hari kedepan. “Pagi melapor, sorenya sapinya mendadak mati,” imbuhnya.
Mendapat laporan tersebut, sambungnya, petugas kembali mendatangi lokasi untuk melakukan pengambilan sampel otak sapi. “Sampelnya langsung kita kirim untuk uji laboratorium ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar,” jelasnya. Hasilnya keluar Kamis (13/7/2023) lalu ternyata positif rabies,” ungkapnya.
Disebutnya, penularan rabies pada sapi bisa dipastikan dari gigitan hewan penular rabies (HPR). Namun pemilik sapi mengaku tidak tahu kapan kejadian riwayat gigitan HPRÂ tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah melakukan vaksinasi rabies terhadap HPR di lingkungan sekitar. Dan pemberian VAR (Vaksin Anti Rabies) kepada pemilik sapi sebagai pencegahan karena sebelumnya ia sempat memeriksa mulut sapi. “Ini yang kedua. Karena bulan Januari 2023 lalu juga ada temuan sapi positif rabies,” ujarnya.
Menurutnya, sejak Januari sampai pertengahan bulan Juli 2023 sudah ditemukan 52 kasus positif rabies di Jembrana, yakni 2 kasus pada sapi dan 50 kasus pada anjing. “Sapi yang mati sudah kita sarankan supaya ditanam. Dan ini sudah dilakukan,” pungkasnya. (Komang Tole)

