“…Tapi buka dulu topengmu,
Buka dulu topengmu,
Biar kulihat warnamu,
Kan kulihat warnamu..” (Ariel, Peterpan)
Kutipan lagu Ariel, Peterpan, sangat tepat dijadikan metafora terkait pidato Presiden soal BGN/MBG, KDMP, atau pun prasangka “Londo Ireng” kepada jurnalis, aktivis, LSM dan sejenisnya
Secara historis, “Londo Ireng” (Belanda Hitam) merujuk pada serdadu asal Afrika Barat, atau India yang direkrut pemerintah kolonial masuk ke dalam pasukan KNIL pada abad ke-19. Diikuti dengan merekrut soroh tokoh dan tokoh soroh untuk mengisi birokrasi pemerintahan.
Namun, dalam diskursus sosiologis dan politik modern, istilah ini mengalami pergeseran makna menjadi ejekan atau stigma bagi kelompok pribumi yang mentalitas, tindakan, atau keberpihakannya dianggap mengabdi pada kepentingan “asing, aseng dan asong”, melawan pemerintahan bangsanya sendiri.
Bila dihubungkan dengan konsep “buka topeng” ala Frantz Fanon melalui karya klasiknya, “Black Skin, White Masks” (1962), sebenarnya sebaliknya . Dimana kita sedang membongkar lapis-lapis alienasi psikologis akibat kolonialisme.
Mengikuti Fanon, dalam membedah bagaimana penjajahan tidak hanya merampas fisik dan teritorial, tetapi juga mencengkeram kesadaran mental kaum terjajah.
Kaum terjajah diindoktrinasi untuk menginternalisasi standar keunggulan penjajah (kulit putih/Eropa) sebagai simbol peradaban, kemajuan, dan kebenaran. Kulit hitam/lokal ada dipinggiran, atau marginal.
Akibatnya, muncul hasrat bawah sadar untuk meniru dan mengenakan “topeng putih”—menjauhkan diri dari identitas asalnya sendiri demi mendapat pengakuan dari sang kuasa.
Ketika seseorang yang secara fisik dan kultural merupakan bagian dari kelompok tertindas justru bersikap lebih keras, menindas, atau menjadi kepanjangan tangan dari struktur kekuasaan asing/elitis, di sinilah topeng itu bekerja.
Fanon menyebut bahwa inferioritas yang menahun bisa bermanifestasi menjadi bentuk kepatuhan neurotik kepada sang penguasa, di mana subjek merasa validasi dirinya hanya bisa di raih dengan melayani sistem dominan. [
Membuka topeng dalam artian ini menelanjangi kepalsuan kultural tersebut: menunjukkan bahwa pengabdian membabi buta terhadap sistem (substance, struktur dan kultur) penindasan luar adalah bentuk pengkhianatan eksistensial terhadap kesadaran manusia yang merdeka.
Lebih jauh, dalam karya antropolog Michael Taussig yang berjudul “Defacement: Public Secrecy and the Labor of the Negative” (1999), konsep “buka topeng” atau unmasking dan perusakan atau defacement memiliki hubungan mendalam dengan kekuasaan dan rahasia publik.
Dimana, Defacement (Perusakan) sebagai bentuk aksi Pengungkapan. Taussig berpendapat bahwa perusakan terhadap sesuatu yang berharga atau suci (seperti wajah atau patung) justru memunculkan kedalaman rahasia yang selama ini tersembunyi di balik permukaannya.
Tindakan merusak ini justru “menghidupkan” objek tersebut dengan cara menodainya.
Public secrecy (Rahasia Publik) berkaitan dengan konsep tentang “mengetahui apa yang tidak boleh diketahui”. Rahasia publik adalah sesuatu yang umumnya diketahui oleh semua orang tetapi tidak bisa atau tidak boleh diucapkan secara terbuka.
Sehingga, Unmasking dan Re-enchantment menurut Taussig merupkan upaya “membuka topeng” atau membongkar rahasia publik sering kali tidak benar-benar menghilangkan rahasia tersebut. Sebaliknya, tindakan ini justru bisa menciptakan “pesona baru” atau rahasia-rahasia baru yang lebih dalam.
Kebenaran bukan sekadar menelanjangi rahasia, melainkan sebuah wahyu yang memberikan keadilan pada rahasia itu sendiri.
Labor of the Negative (Kerja Negatif), yang mengambil inspirasi dari Hegel, dimana Taussig melihat defacement sebagai bentuk “negativitas” yang tidak dapat dibendung yang mampu membongkar kenyataan yang disembunyikan oleh norma-norma sosial.
Beberapa kritikus berpendapat bahwa meskipun posisi Taussig mengenai kerahasiaan publik sangat mendalam, ia terkadang terlalu antusias sehingga cenderung menggeneralisasi data etnografinya untuk mendukung argumen totalitas tentang “masyarakat”.
Konsep-konsep ini sering digunakan untuk menganalisis bagaimana kekuasaan bekerja melalui teateritas dan kerahasiaan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Penulis : Ngurah Karyadi

