*Daniel Bahari, “Penyihir dari Bali”* Oleh Herru Prasetyo

0
221

Balinetizen.co, Denpasar

Musibah kecelakaan yang menimpa Pino Bahari pekan lalu seperti membuka kembali lembaran lama yang nyaris terlupakan. Ingatan publik—setidaknya bagi mereka yang pernah hidup di masa keemasan tinju Indonesia—langsung melayang pada satu nama: Daniel Bahari. Sosok yang dijuluki “penyihir dari Bali”, bukan karena trik sulap, melainkan sentuhan tangannya yang mampu mengubah petinju biasa menjadi juara.

Bagi generasi hari ini, nama Daniel Bahari mungkin terdengar asing. Namun di era 1980–1990-an, ia adalah arsitek di balik bangkitnya tinju amatir Indonesia. Ia bukan sekadar pelatih, melainkan peracik strategi, pembaca potensi, sekaligus guru yang memahami bahwa kemenangan di atas ring dimulai dari mental yang ditempa di luar ring.

Menariknya, Daniel tidak lahir sebagai petinju besar. Ia pernah mencicipi kerasnya ring, namun sadar bahwa jalannya bukan di sana. Banyak orang berhenti ketika menyadari keterbatasannya. Daniel justru memutar arah. Ia mengganti sarung tinju dengan peran yang jauh lebih sunyi—melatih. Dan dari keputusan itu, lahirlah sejarah.

Salah satu bukti nyata kepiawaiannya adalah (alm) Adi Swandana, petinju Bali yang pernah menumbangkan nama besar seperti Syamsul Anwar Harahap. Prestasinya di level internasional—medali perak di Aljazair (1981), SEA Games 1981 dan 1983—menjadi saksi bahwa tangan dingin Daniel bekerja nyata. Dan Adi hanyalah satu dari sekian banyak anak didiknya.

Yang membuat kisah Daniel semakin istimewa adalah bagaimana ia juga “menciptakan” juara dari darah dagingnya sendiri. Putra sulungnya, Pino Bahari, mencetak sejarah dengan meraih emas Asian Games 1990 di Beijing—sebuah capaian yang hingga kini belum terulang oleh petinju Indonesia. Bukan hanya Pino, saudara-saudaranya seperti Nemo dan Daudy juga mencatatkan prestasi gemilang di level nasional. Ini bukan kebetulan. Ini adalah sistem, disiplin, dan filosofi yang diwariskan.

Baca Juga :  Tingkatkan Kesiapsiagaan Warga, Kelurahan Dangin Puri Gelar Pelatihan Pemadaman Api Untuk Anggota PKK 

Pada titik ini, julukan “penyihir” terasa masuk akal. Namun, sihir yang dimaksud bukanlah sesuatu yang instan. Ia adalah akumulasi dari ketekunan, pengorbanan, dan visi panjang tentang bagaimana membangun petinju, bukan sekadar melatih pukulan.

Di balik semua itu, ada kisah akar yang panjang dan tak kalah menarik. Daniel Bahari lahir sebagai Thio Kek Thing di Denpasar, 23 Maret 1948. Ia adalah generasi ketiga dari perjalanan seorang remaja bernama Thio Apoh yang melarikan diri dari konflik di Tiongkok, berpindah dari Vietnam ke Thailand, hingga akhirnya berlabuh di Singaraja, Bali. Dari perjalanan penuh gejolak itu, lahirlah seorang anak Bali yang kelak mengharumkan nama Indonesia di panggung tinju dunia.

Namun, seperti banyak cerita kejayaan lainnya, waktu berjalan tanpa kompromi. Hari ini, ring tinju Indonesia terasa sunyi. Gaungnya tak lagi sekeras dulu, bahkan setelah era gemilang Chris John berlalu. Pertanyaan pun muncul: ke mana para “penyihir” itu pergi? Atau, apakah kita yang lupa bagaimana menciptakan mereka?

Daniel Bahari telah tiada. Tetapi warisannya bukan sekadar daftar medali atau nama-nama juara. Ia meninggalkan standar—tentang dedikasi, tentang keberanian mengubah jalan hidup, dan tentang keyakinan bahwa prestasi besar lahir dari proses panjang.

Musibah yang menimpa Pino Bahari mungkin adalah pengingat yang getir. Namun di balik itu, ada kesempatan untuk kembali menoleh. Bukan sekadar mengenang, tetapi belajar. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya yang mampu mencetak juara, tetapi yang tahu bagaimana menghargai para pembuatnya.

Dan di antara nama-nama itu, Daniel Bahari akan selalu berdiri sebagai satu: penyihir dari Bali, yang sihirnya belum benar-benar tergantikan. (BN-rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here