Kegagalan Negosiasi Tarif, Ekonomi Indonesia Semakin Suram

0
299

Ilustrasi

Balinetizen.com, Jakarta

Diberitakan, negosiasi Tarif yang dipimpin oleh Menko Perekonomian Erlangga Hartarto, ke pemerintah Presiden Trump telah gagal. Tambahan tarif yang sebelumnya 32 persen, setelah negosiasi, bukannya turun, justru dinaikkan menjadi 47 persen.

“Ini merupakan bentuk kegagalan negosiasi, dalam bayang-bayang ekonomi dunia dengan risiko perang dagang, dengan dampak ekonomi sangat serius,” kata ekonom dan pengamat ekonomi Jro Gde Sudibya, Selasa 29 April 2025.

Dikatakan, belajar dari perang tarif dan perang dagang tahun 1930’an, melahirkan depresi besar ekonomi dunia, yang menurut para sejarahwan menjadi pemicu Perang Dunia ke Dua.

Menurutnya, kenaikan tarif dari rencana semula 32 persen menjadi 47 persen, bukti kegagalan diplomasi ekonomi Indonesia, yang minim diplomat kawakan sekaligus negosiator ulang perdagangan di dunia internasional.

Dikatakan, di masa awal kemerdekaan, kita punya diplomat ulung, seperti: HA.Salim, Hatta, Sjahrir, Soedjatmoko, Adam Malik. Di masa Orde Baru, kita punya pakar ekonomi internasional Dr.Suhadi Mangkusuwondo yang dikenal cerdas dalam negosiasi perdagangan internasional yang pelik.

Menurutnya, permintaan yang berlebihan dari admistrasi pemerintah Trump, tentang isu-isu kecil praktek perdagangan di pasar grosir Mangga Dua Jakarta, memberikan indikasi, kedutaan besar Indonesia di Washington, yang posisi Duta Besarnya lagi kosong, nyaris tidak berbuat apa-apa untuk memperbaiki posisi tawar ekonomi Indonesia terhadap AS.

Dikatakan, kegagalan negosiasi Tarif, membuat ekonomi dalam negeri menjadi tidak pasti, menghambat kemungkinan investasi luar negeri yang sangat dibutuhkan di tengah APBN mengalami “pendarahan” serius.

Ekonomi yang sedang suram, dengan sejumlah indikator: nilai rupiah yang terus merosot, di atas Rp.17 ribu per 1 dolar AS, penarikan hutang luar negeri terus bertambah, diberitakan minggu ini terjadi tambahan hutang luar negeri sebesar Rp.250 T.

Baca Juga :  Satlantas Polres Jembrana Bagi-Bagi Takjil dan Masker

“Bank Dunia sudah mengingatkan, hutang luar negeri Indonesia sudah mencapai 40 persen dari pendapatan nasional, yang oleh Bank Dunia dinilai riskan,” katanya.

Dikatakan, “Hantu” Pengangguran terus membesar, puluhan ribu orang telah di PHK, terutama di industri tekstil, dan diperkirakan akan terus bertambah.

” Sanken dengan product brand yang kuat, dengan pasar yang tergolong luas dan stabil, menghentikan produksinya. LG, membatalkan rencana investasinya untuk proyek pengadaan pasakon bakteri listrik senilai Rp.198 T,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, investor luar negeri “hengkang”, kepercayaan pelaku pasar uang dan modal di Bursa Efek Jakarta terus menurun, membuat ekonomi yang sudah suram menjadi semakin suram.
PR besar yang harus dijawab oleh pemerintahan Presiden Prabowo, melalui aksi cerdas dan berani, tidak lagi sekadar wacana dan “omon-omon”.

Jurnalis : Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here