Balinetizen.com, Gianyar
Puluhan tim memasak perwakilan Kabupaten/Kota di Bali meriahkan Parade Ngelawar Se Bali dengan Resep Mustika Rasa yang digagas oleh Anggota DPR RI Nyoman Parta di Guwang Sukawati Gianyar Bali Minggu (29/6/2025).
Parade juga mendapat perhatian dari sejumlah tokoh dan pejabat publik antara lain Cok Rat dan Ketua DPRD Gianyar I Ketut Sudarsana.
Parade diikuti 47 team beranggotakan 4 hingga 5 orang yang wajib membuat lawar favorit dan juga masakan pendukung aneka rasa lainnya mempergunakan bahan pangan lokal sesuai ciri khas daerah masing-masing. Selain itu seluruh peserta juga wajib mempresentasikan resep dan keunggulan masing-masing jenis masakan yang dibuat.
Sejak pagi hingga sore seluruh peserta nampak antusias meracik menu favoritnya, terlebih hadir sebagai “juri” adalah Chef ternama Pulau Dewata yakni Chef Ronald, Manik MCI dan food Vloger Ari Kakul.
Salah satu menu yang mendapat perhatian khusus oleh Chef Ron adalah Lawar berbahan buah Sukun yang dibuat oleh “Sekaa Lawar Ampli Geltu” asal Desa Geluntung, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan.
Mulai awal parade Sekaa Lawar Ampli Geltu yang beranggotakan 5 orang perempuan nampak sigap meracik dan memasak beragam menu aneka rasa, berbaur dengan tiem kabupaten lain yang beranggotakan campuran laki dan perempuan.
Informasi yang kami peroleh, Sekaa Lawar Ampli Geltu sejak Tehnical Meeting sudah tertarik menggunakan buah Sukun sebagai bahan lawar seperti usulan salah satu tokoh Desa Geluntung Putu Yuni Widyadyani yang juga selaku anggota DPRD F-PDIP Kabupaten Tabanan.
Dalam penjelasannya via handphone, Putu Yuni Widyadyani yang akrab di sapa Nuning mengatkan, dirinya tertarik memperkenalkan buah Sukun sebagai bahan pangan non beras kepada masyarakat secara luas. Ide ini terinspirasi saat membaca tulisan tentang pohon Sukun di makam Bung Karno di Blitar Jatim. Pada saat menjalani pengasingan oleh pemerintah Hindia Belanda di Kota Ende Flores tahun 1934 -1938. Konon Soekarno kerap duduk dibawah pohon Sukun sembari menulis dan menggali inspirasi tentang nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila, jadi penggunaan buah Sukun dalam Parade Ngelawar Se- Bali 2025 kali ini saya kira sangat tepat mengingat diselenggarakan dalam momentum peringatan Bulan Bung Karno pada bulan Juni ini, ungkap Nuning.
“Sekaa Lawar Ampli Geltu” Desa Geluntung mengolah buah Sukun menjadi lawar dalam dua resep, yakni dengan campuran daging dan tanpa daging. Ternyata Lawar Sukun tanpa campuran daging ini mendapat perhatian serius oleh Chef Ron. Dirinya sempat ditanya mengapa menggunakan buah Sukun sebagai lawar?
“Buah Sukun saat ini sudah mulai langka, selama ini yang dikenal oleh masyarakat umumnya buah Sukun yang dijadikan kripik, kolak atau direbus, untuk masakan lawar sangat jarang. Memperkenalkan lawar Sukun diharapkan menginspirasi masyarakat di Bali kembali tertarik membudidayakan pohon Sukun sebagai sumber bahan pangan non beras, minimal petani di desa-desa menanam satu pohon Sukun di kebunnya. Bahkan sambung Nuning, menurut Chef Ron Lawar Sukun tanpa daging bisa diperkenalkan di restoran-restoran sehingga Sukun memiliki nilai tambah, tutup Nuning yang merasa gembira karena resep lawar Sukun buatan ibu-ibu dari desanya menjadi salah satu menu favorit dan berhasil memperoleh penghargaan sepuluh besar dari panitia. (BN-rls)

