Pasokan BBM Sisa Sepekan? Koster Gaungkan Beralih ke Kendaraan Baterai

0
56

Balinetizen.com, Denpasar

Di tengah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali sejak 11 Oktober 2026, Gubernur Bali Wayan Koster menyebut penjualan mobil listrik di Pulau Dewata terus menunjukkan tren peningkatan. Namun, penggunaan kendaraan listrik roda dua dinilai belum mengalami peningkatan signifikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Koster saat menghadiri peluncuran bus listrik dan charging station hibah Proyek Bali E-Mobility di Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Kamis (22/10/2026).

Acara itu turut dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy.

“Lapor Bapak Menteri, sekarang ini penjualan mobil listrik di Bali terus meningkat. Yang belum meningkat banyak itu adalah kendaraan roda duanya,” kata Koster dalam sambutannya.

Melihat tren tersebut, Koster mendorong masyarakat Bali untuk semakin banyak beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai. Menurutnya, penggunaan kendaraan listrik dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi polusi dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Ayo kita rame-rame segera berubah menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai agar alam ini bersih dan kehidupan jadi sehat,” ajak Koster.

Koster Bandingkan Biaya Kendaraan Listrik dan BBM

Selain dinilai lebih ramah lingkungan, Koster menyebut kendaraan listrik lebih hemat dan efisien dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar minyak.

Ia mencontohkan perbandingan biaya perjalanan pulang-pergi Denpasar–Singaraja. Menurut Koster, perjalanan menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak dapat menghabiskan biaya sekitar Rp500 ribu, sedangkan menggunakan mobil listrik hanya sekitar Rp140 ribu.

“Jauh lebih efisien, tidak ada suara, tidak ada polusi udara, tidak ada polusi suara, dan kita tidak perlu lagi pakai oli,” imbuhnya.

Koster menilai efisiensi biaya dan manfaat lingkungan tersebut dapat menjadi pertimbangan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik.

Kelangkaan BBM Bali dan Pembatasan Pembelian Pertalite

Baca Juga :  UU Otonomi Khusus tentang Provinsi Bali Resmi Diserahkan, Usulkan Rp530 Miliar dari APBN

Ketua IWO Bali Tri Widiyanti turut menyoroti imbauan Gubernur Bali Wayan Koster.

Menurutnya, dorongan penggunaan kendaraan listrik itu disampaikan ketika masyarakat Bali masih menghadapi persoalan pasokan BBM, terutama jenis Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo.

Kelangkaan yang dirasakan masyarakat sejak Minggu (11/10/2026) memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa cadangan Pertalite di Bali diperkirakan dapat bertahan selama 12–15 hari, artinya sisa stok BBM sisa sepekan jika merujuk pada statmen Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat mengunjungi Depo Pesanggaran pada Jumat (16/10) lalu.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali menerapkan pembatasan pembelian BBM. Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah sistem ganjil genap berdasarkan pelat nomor kendaraan untuk pembelian Pertalite.

Kebijakan itu dinilai dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas akibat antrean kendaraan di SPBU.

“Meski demikian, peralihan menuju kendaraan listrik membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya serta kesiapan masyarakat, lantas apakah Bali siap?,” tanyanya.

Peluncuran bus listrik dan charging station melalui Proyek Bali E-Mobility menjadi salah satu upaya untuk mendorong pemanfaatan transportasi berbasis listrik di Bali.

Pihaknya berharap apa yang menjadi imbauan Gubernur tidak hanya sekedar wacana.

“Dukungan sumber daya energi khususnya pasokan listrik harus juga dipikirkan Pemprov Bali, jika memang mau menghilight Bali mandiri Energi Listrik,” tandasnya.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here