Pengamat : Ironi Negeri, Kekayaan Melimpah, Penduduknya Miskin, Utang Pemerintah Menumpuk

0
706

Balinetizen.com, Jakarta –

 

Ironis Negeri Indonesia ini. Kekayaan alam melimpah, tetapi penduduknya miskin. Dan, anehnya lagi, negeri yang kaya raya sumber alam dan sumber manusianya, akan tetapi utang pemerintah menumpuk. Di sisi lain, telah terjadi kolusi Penguasa-Pengusaha “Crazy Super Rich”.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Jumat 10 Oktober 2025.

Dikatakan, kekayaan sumber daya alam melimpah, nyaris melegenda. Dalam fenomena ini, pendapat pakar manajemen dunia Peter F Drucker menjadi relevan. Kekayaan SDA bisa menjadi berkah, dan bisa menjadi kutukan.

“Menjadi berkah jika dikelola dengan baik, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Menjadi kutukan, jika penguasanya korup, melakukan kolusi dengan elite pengusaha, masyarakatnya terpinggirkan, alam rusak, secara ekonomi masyarakat termaginalkan. Indonesia mengalami kondisi yang terakhir,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2024, penduduk miskin Indonesia 68,3 persen dari jumlah penduduk, 2 dari 3 orang Indonesia dengan kategori miskin.

Menurutnya, dengan tolok ukur garis kemiskinan, pengeluaran per orang per hari Rp.49,204, dengan alasan Indonesia termasuk negara dengan kategori Kelas Menengah dengan rentang pendapatan per kapita: 3,500 – 14,000 dolar AS.

“Hal ini sangat kontradiktif, kategori pendapatan naik, malah angka kemiskinan naik pula. Ini adalah gambaran dari kesenjangan pendapatan yang sangat timpang,” katanya.

Dikatakan, utang negara menumpuk, menurut penjelasan Menkeu Sri Mulyani di depan sidang Komisi XI DPR, utang pemerintah per 30 Juni 2025 Rp.10,280 T belum termasuk utang BUMN.

Menurut Jro Gde Sudibya, jika utang ini mau dilunasi selama 10 tahun, angsuran per tahun sebelum bunga Rp.1,000 T. Angsuran setara dengan 27 persen APBN tahun 2024 sebesar Rp.3,600 T. Angsuran yang besar, menekan kemampuan fiscal pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga :  Kelurahan Padangsambaian Panen Cabai dan Terong Bentuk Penguatan Ketahanan Pangan

Dikatakan, kolusi penguasa-pengusaha memberikan limpahan kekayaan sangat besar buat mereka dari: “menggangsir” SDA, kemudahan dalam investasi dan perizinan, oligopoli dalam kegiatan ekspor, produksi produk manufaktur, fasilitas istimewa perbankan serta kemudahan dan bahkan pembebasan pajak.

“Negeri yang sarat ironi, SDA nya nyaris terkuras habis, penduduknya tetap miskin, utang pemerintahan menumpuk.Kolusi penguasa- penguasa memperoleh sebutan baru “crazy super rich”, kelompok super kaya yang “gila-gila”an,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here