Pengamat Pariwisata Bali Ungkap Wisata Bali Dijual Murah di China

0
213

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

Claudius Daniel, mantan pemandu wisata dan praktisi pariwisata berpengalaman, mengungkapkan isu lama tentang Bali yang dijual dengan harga murah di Tiongkok, sejak tahun 2008.

Daniel, dengan pengalaman langsung selama lebih dari satu dekade, mengungkap praktik di mana Agen perjalanan Tiongkok bertransaksi langsung dengan operator tur yang berbasis di Bali.

Begitu wisatawan tiba, katanya agen-agen ini menjual kembali layanan tersebut kepada pemandu wisata lokal, dan memulai siklus biaya perkenalan yang berkisar antara $30 hingga $60 per hari.

Pemandu wisata kemudian secara mandiri menyusun rencana perjalanan, mengarahkan wisatawan melalui toko seni, toko suvenir, spa, dan restoran. Pendapatan mereka bergantung pada komisi yang diperoleh dari tempat-tempat tersebut, sehingga menimbulkan pertaruhan berisiko dimana keuntungan berfluktuasi, dan beberapa wisatawan terlantar karena belanja yang tidak mencukupi.

Daniel menegaskan, praktik ini telah berkembang menjadi tren mengkhawatirkan yang diberi istilah “Bali Dijual”.

Strategi pemasaran ini, katanya kini telah menjelma menjadi fenomena yang meluas, dengan iklan yang beredar di platform media sosial Tiongkok seperti WeChat.

Salah satu iklan tersebut, bebernya menawarkan paket Bali 5 hari 4 malam hanya dengan RMB 999 (sekitar Rp 2.137.860).

Namun, pendekatan ramah anggaran ini mempunyai konsekuensi buruk terhadap citra pariwisata Bali, karena pemandu lebih mengutamakan keuntungan dibandingkan kesejahteraan pulau yang ingin mereka tampilkan.

Menyatakan kepeduliannya terhadap industri pariwisata, Daniel kemudian mendesak pemerintah, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Divisi Mandarin, dan pemangku kepentingan lainnya mengambil tindakan cepat.

Merujuk pada peraturan yang ada seperti Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 28 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Pariwisata Bali dan nota kesepahaman tertanggal 25 Agustus 2023, ia menegaskan, penanggulangan permasalahan tersebut merupakan tanggung jawab bersama.

Baca Juga :  Sukses Implementasikan PPNSB di Badung, Wabup Suiasa Paparkan Program Unggulan di Rakerda DPD PDIP Sumatera Barat

Sementara itu, Pengamat pariwisata Hasan Basri menunjukkan fokus khusus praktik penipuan semacam ini pada pasar Tiongkok, dan mempertanyakan kolaborasi nyata antara perusahaan Tiongkok dan Indonesia.

Ia menyarankan adanya hubungan simbiosis yang mengutamakan keuntungan, sehingga melanggengkan siklus penjualan Bali dengan harga lebih murah.

Pandangan Basri menggarisbawahi pentingnya upaya kolektif untuk memperbaiki situasi dan melindungi reputasi pariwisata Bali.(Tri Prasetiyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here