Perayaan Galungan, di Zaman Kali (Kali Yuga)

0
215

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Hari ini, 22 Februari 2024 ratna Sugian Jawa, besok 23 Februari 2024, ratna Sugian Bali, “ategepan raina” menuju raina Galungan lan Kuningan.

Timbul pertanyaan, bagaimana raina ini dimaknai di di zaman Kali (Kali Yuga) yang secara teologi bercirikan: kesadaran murni manusia (baca energi Satvam dan Tri Guna Titha) tinggal 20 persen, itupun tidak lagi “bersinggana” di Kepala, tetapi berada di Kaki. Akibatnya, kekuatan Tamasika (kebodohan, kemalasan, maunya gampang dan sejenisnya), bergabung dengan Rajasika (yang tidak terkendali), melahirkan perilaku umum bercirikan: kesombongan, keangkuhan, maunya menang sendiri /kelompoknya, “adigung adi kuasa”, perilaku menghalalkan semua cara untuk memuaskan kelakuan diri dan kelakuan sosial yang tidak ada batasnya.

Dalam fenomena sosial umum seperti ini, umat Hindu suku Bali merayakan Galungan. Terus bagaimana caranya memakai Galungan, dalam fenomena penyakit sosial akut seperti ini?.
Tetua Bali mengajarkan kearifan kehidupan, menyebut beberapa, “Phala karma natan simpang”, hukum karma selalu cermat bekerjanya, sehingga mereka yang menang dalam pertarungan (mungkin saja dengan cara curang), bisa lebih menahan diri dalam “Sorak sorai” kemenangan, toh pada akhirnya akan kalah dari “janji” hukum besi Karma Doktrin.

Masyarakat Bali memahami ini, karena merupakan bagian dari perjalanan sejarahnya.Kedua, “keteguhan ngewangun yaaa kerthi”, terus tekun belajar, bekerja di jalan Dharma, dalam ungkapan populer belajar, bekerja dan berdoa, tidak gentar menghadapi “bolak baliknya” zaman, dalam nasehat keras tetua Bali: “gumine butuh, de bareng memuduh”. Bumi dan segala isinya bisa saja gila, tetapi kamu jangan bersikap kegila-gilaan”. Ketiga, nasihat tetua Bali yang lain, “Ayua rumenge katantara”, “meneng akene”. Jangan terlalu hirau dengan apa yang tampak di permukaan (karena sering merupakan

Baca Juga :  Bupati Tamba Kagumi Jam Kayu Karya Anak Muda Jembrana

kepalsuan), tetapi terus berkarya di tengah kediaman.
Dalam realitas sosial, Kita sering dihadapkan apa yang disebut oleh Svami Vivekananda sebagai kebutaan intelektual (intelectual illiterate) dan kebutaan spiritual (spiritual illiterate), tetapi suaranya bergemuruh mengalami diri pemegang tunggal kebenaran.

Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here