Balinetizen.com, Buleleng
Upaya perlindungan penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK) meliputi Bali, NTB dqn NTT kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Identifikasi dan Pemetaan Lokasi Peneluran serta Titik Perdagangan Penyu di BLSK’, di Gedung Balingkang Confucius Institute, Universitas Pendidikan Ganesha, pada Senin (20/4/2026)
Dalam FGD ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga organisasi konservasi, untuk membahas kondisi terkini sekaligus merumuskan langkah strategis penyelamatan penyu di kawasan BLSK tersebut. Mengingat BLSK dikenal sebagai kawasan dengan nilai ekologis tinggi yang menjadi habitat penting bagi penyu. Baik sebagai lokasi peneluran, daerah mencari makan (foraging ground), maupun jalur migrasi yang terhubung dengan arus Indonesian Throughflow. Namun, tekanan terhadap populasi penyu masih terus terjadi.
Ancaman utama yang dihadapi, antara lain perdagangan ilegal produk penyu, eksploitasi telur di lokasi peneluran, serta tangkapan sampingan (bycatch) dari aktivitas perikanan. Di sisi lain, keterbatasan data ilmiah terkait distribusi populasi dan aspek genetik penyu menjadi tantangan dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti.
Melalui diskusi ini, para peserta akan mengidentifikasi lokasi-lokasi penting peneluran penyu, memetakan jalur perdagangan ilegal, serta menyusun rekomendasi awal berbasis data sebagai dasar penguatan strategi konservasi ke depan.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Biodiversitas Indonesia (BIONESIA), Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Mataram, Universitas Nusa Cendana, WWF Indonesia, Nautika Foundation, Thrive Conservation dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan dukungan dari program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA).
Diharapkan, hasil dari FGD ini dapat menjadi pijakan awal dalam memperkuat kebijakan dan aksi lapangan untuk melindungi penyu secara berkelanjutan, khususnya di kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang memiliki peran strategis secara ekologis. GS

