Potensi Krisis Ekonomi tahun 2025 Bisa Lebih Parah dari Krisis Keuangan 1998 dan Krisis Fiscal 1966

0
384

Ilustrasi

Balinetizen.com, Jakarta

Potensi Krisis Ekonomi tahun 2025 bisa lebih Parah dari Krisis Keuangan 1998 dan Krisis Fiscal 1966. Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Rabu 3 September 2025 di Jakarta.

Diakatakan, krisis ekonomi ini disebabakna rangkaian demo organik dari Indonesia Gelap sampai demo beberapa hari terakhir membuka kotak pandora dari masyarakat kelas menengah yang tingkat ekonominya mengalami penurunan serius dalam 5 tahun terakhir.

“Indikator ekonomi menunjukkan itu, berdasarkan data BPS, jumlah kelas menengah dalam 5 tahun terakhir 2019 – 2024 berkurang hampir 10 juta orang, masuk kategori masyarakat yang rentan miskin,” katanya.

Dikatakana, indikator lainnya, puluhan ribu PHK terjadi di sektor industri, terutama di industri tekstil, kesempatan kerja yang semakin terbatas yang kemudian “tertampung” di industri GIG termasuk pekerja OJOL yang menurut harian Kompas berjumlah 4,7 juta orang. Angka Kemiskinan “meledak” menurut kriteria Bank Dunia (2024), 2 dari 3 orang Indonesia dalam kategori miskin. Dalam beberapa bulan terakhir terjadi deflasi, yang memberikan indikasi melemahnya daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Menurutnya, ditambah komposisi Kabinet 109 menteri, wakil menteri dan lembaga yang ditetapkan Presiden Prabowo yang baru berusia 10 bulan, tidak cepat tanggap dan ada indikasi gagal paham dalam mengantisipasi risiko krisis ekonomi yang dipicu oleh gelombang protes kelas menengah.

“Potensi krisis besar ekonomi tahun 2025 ini, kombinasi dari krisis fiscal (besarnya defisit fiscal), melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah, tidak kompetennya kabinet dalam mengelola potensi krisis, rendahnya “sense of crisis” dalam menghadapi risiko krisis fiscal,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, potensi krisis ekonomi tahun 2025 bisa lebih besar dari krisis keuangan tahun 1998 dan krisis fiscal tahun 1966.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Tanam Bibit Kopi Arabika di Kawasan Agro Techno Park,  Jadikan ATP Badung Sebagai Kawasan Terpadu  Pertanian dan Pariwisata

Menurutnya, krisis keuangan tahun 1998, dipicu oleh krisis mata uang Baht Thailand, April 1997, menyebar ke Indonesia yang manajemen fuscalnya kuat, dan nilai uangnya sebelumnya sangat stabil. Terjadi penurunan drastis nilai rupiah dari 1 Dolar AS sekitar Rp.2,500, di bulan Agustus 1997 menjadi sekitar Rp.16,000 di bulan Oktober 1998.36 bank swasta ditutup, akibat pemiliknya yang umumnya para konglomerat tidak mampu membayar hutang berbentuk Dolar AS yang sangat besar. Tahun 1998,kebijakan fiscal Indonesia solidaritas, ekonomi masyarakat kelas menengah berjalan biasa-biasa saja tanpa tekanan ekonomi yang berarti.

Menurut Jro Gde Sudibya, berbeda dengan kondisi yang menimpa kelas menengah dewasa ini.

Dikatakan, krisis fiscal tahun 1966, jika merujuk disertasi dari Dr.Ali Wardhana di University of California Berkley, digambarkan oleh Pak Ali Wardhana, ekonomi Indonesia tahun 1966 sebagai ekonomi perang -war economy – dalam konfrontasi melawan Malaysia.

“Saat itu, Defisit APBN sangar besar, karena pembiayaan perang dengan mencetak uang, tanpa peningkatan kapasitas produksi, sehingga pasokan produksi barang dan jasa lebih rendah dari permintaan. Tahun 1966 ditandai oleh angka inflasi 650 persen,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.

Jurnalis : Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here