UNICEF: Hampir 70 persen Air Minum Rumah Tangga di Indonesia Tercemar Tinja

0
542

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

UNICEF menginformasikan bahwa hampir 70 persen air minum rumah tangga di Indonesia tercemar limbah tinja. Banyak penyakit yang dapat disebabkan oleh kejadian ini. Maka, UNICEF menggalang kampanye untuk mengedukasi tentang pentingnya sanitasi air minum.

Kementerian Kesehatan melakukan studi tentang Kualitas Air Minum Rumah Tangga pada 2020. Hasil penelitian ditemukan bahwa 70 persen dari 20 ribu sumber air minum rumah tangga di Indonesia tercemar limbah tinja.

UNICEF selaku Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak bisa diam begitu saja melihat permasalahan ini. Sebab, isu ini menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan pemicu utama kematian balita.

Kampanye #DihantuiTai dari UNICEF
Melihat persoalan genting yang dihadapi Indonesia, UNICEF mengeluarkan kampanye unik. Kampanye yang cukup terdengar nyeleneh, tetapi dibutuhkan Indonesia. Ialah kampanye #DihantuiTai untuk edukasi tentang sanitasi aman dan dampak pencemaran sumber air oleh tinja terhadap kesehatan masyarakat.

Diketahui bahwa data terbaru terkait sanitasi aman di Indonesia menunjukkan angka 7 persen. Dilansir dari pukulenam.id, Direktur Perumahan dan Permukiman Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kemen PPN/Bappenas), Tri Dewi Virgiyanti mengungkapkan bahwa data sanitasi aman Indonesia pada 2020 angkanya lebih rendah dari Thailand dengan angka 26 persen. Bahkan, Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga, Singapura yang memiliki nilai angka sanitasi aman sampai 100 persen.

Banyak PR (Pekerjaan Rumah) yang harus dilakukan Indonesia. Maka, kampanye #DihantuiTai ini dirasa sangat perlu untuk digaungkan lebih keras ke masyarakat.

Lantas, apa itu kampanye #DihantuiTai?

Berkenalan dengan kampanye #DihantuiTai
Kampanye yang diusung UNICEF ini hadir selain dari data studi yang ditemukan Kementerian Kesehatan, juga karena kurangnya keprihatinan masyarakat Indonesia. UNICEF melihat bahwa kesadaran dan kepedulian masyarakat Indonesia akan sanitasi masih sangat rendah. Hal tersebut tercermin dari banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak mengolah air limbah domestik secara aman.

Baca Juga :  Tiga Mantan Bupati Jembrana All Out Menangkan Koster-Giri dan Bang-Ipat

Bersama dengan instansi pemerintah Indonesia, UNICEF akan menjalankan kampanye #DihantuiTai untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya menjaga dan mengelola sanitasi dengan baik. Hal tersebut bisa meminimalisir bahaya dari tinja yang tidak dikelola dengan aman.

Edukasi CEKIDOT: Penyedotan lumpur tinja secara berkala
Salah satu cara yang dilakukan UNICEF untuk mengedukasi keluarga-keluarga di Indonesia adalah dengan memusatkan informasi tentang CEKIDOT, yakni Cek dan Sedot. Perihal CEKIDOT ialah pemberian informasi terkait cara memastikan jamban di rumah dilengkapi dengan septic tank yang sesuai standard, melakukan penyedotan lumpur tinja, dan/atau pengurasan septic tank secara berkala minimal 3 tahun sekali.

UNICEF ajak masyarakat berdonasi Agar kampanye edukasi ini bisa berjalan dengan lancar dan sampai ke seluruh sasaran, maka UNICEF mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi. Kontribusi paling mudah dan yang paling dibutuhkan sekarang adalah dengan pemberian dukungan donasi. Donasi bisa dilakukan melalui situs resmi rilisan UNICEF di sini. Kerja sama berbagai pihak bisa meringankan pekerjaan UNICEF dan Pemerintah untuk membebaskan Indonesia dari bahaya pencemaran air minum akibat limbah tinja. (hd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here