Pekerja GIG, Tingginya Angka Pengangguran, Rendahnya Produktivitas Ekonomi

0
194

Ilustrasi

Balinetizen.com, Jakarta

Pekerja GIG, mereka yang bekerja di platform digital, seperti Gojek, Grab, Shopee Food dan Tiktok Shop, menjadi pilihan populer tenaga kerja, akibat migrasi dari para pekerja yang terdepak dari pekerjaan formal mereka di sektor manufaktur dan jasa perkotaan. (Tajuk Rencana Kompas, Rabu, 18 Juni 2025).

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan, Kamis 19 Juli 2025 menanggapi pergeseran pekerja di sektor formal.

Dikatakan, Profesi baru di era industri digital yang merupakan keniscayaan, sehingga tantangan ke depan, bagaimana pekerja GIG ini dilindungi dalam posisi tawarnya dengan perusahaan aplikasi, pengaturan persaingan, perlindungan kerja terhadap mereka.

Menurutnya, Pekerja GIG, bisa merupakan puncak gunung es dari kemelut di sektor ekonomi ketenaga-kerjaan kita: tingginya angka pengangguran, massifnya PHK, besarnya pekerja di sektor informal dengan produktivitas rendah, kemampuan saing terbatas, nyaris tanpa perlindungan sosial kerja.

“Dari kenyataan yang dihadapi bangsa kita, tidak ada upaya serius dalam menangani kemelut ketenaga-kerjaan ini, janji menciptakan 19 juta kesempatan kerja hanya sebatas ” omon-omon”, tetapi faktanya, angka PHK terus bertambah,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi dalam kuartal pertama tahun 2025, lebih rendah dari angka kuartal pertama 2024, akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat, belanja pemerintah yang terbatas akibat tekanan fiscal, tertekannya investasi luar negeri akibat iklim usaha yang tidak kondusif.

“Dan diperkirakan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 5 persen agak sulit bisa dicapai, sehingga tantangan besar ekonomi tahun ini: melemahnya daya beli masyarakat, tingginya PHK, angka pengangguran bertengger tinggi,” kata Jro Gde Sudibya.

Ironinya, lanjut Gde Sudibya politik pembangunan yang pro kesempatan kerja tidak muncul, yang muncul ambisi besar proyek Danantara, yang publik meragukan kelayakan ekonomi finansialnya. Tanpa transparansi dan akuntabilitas terhadap proyek proyek Danantara, skeptimisme publik tidak terhindarkan.

Baca Juga :  Kompensasi di Tengah PPKM Darurat, Wakil Ketua DPRD Badung Wayan Suyasa Apresiasi Bupati Cairkan BLT

Dikatakan, Rencana proyek yang akan didanai Danantara: produksi baterai kendaraan listrik dari Nikel dengan perkiraan investasi Rp.650 T, pengolahan bauksit menjadi aluminium, kilang minyak dengan perkiraan investasi Rp.41,44 T, pengolahan produk pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan.

“Tanpa transparansi dan akuntabilitas publik, dengan desain UU Danantara yang memberikan semacam “hak istimewa” bagi pengurus Danantara dalam mengelola investasi, sehingga kemungkinan proyek ini akan dikelola oleh beberapa oligarki yang dekat dengan pusat kekuasaan, sehingga potensi moral hazard sulit dihindari,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here