Balinetizen.com, Denpasar
Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar setiap bulan Juni-Juli di Taman Budaya Bali semakin Kehilangan “Taksu”nya dengan sejumlah alasan.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan, Rabu 29 April 2026.
Menurut Jro Gde Sudibya, mulai kehilangan taksunya, karena sudah keluar dari idealisme penggagasnya Gubernur Mantra, PKB puncak ekspresi berkesenian para seniman, diselenggarakan oleh dan untuk para seniman, dan masyarakat pencinta kebudayaan.
Dikatakan, birokrasi hanya memberikan “support” administrasi. Dalam berbagai kesempatan Pak Mantra menyatakan, jika PKB menjadi “proyek” birokrasi, hasilnya akan “nyaplir”.
Menurut penuturan Pak Mantra , pembangunan PKB, merupakan bagian dari strategi kebudayaan, dengan idealisme, kemajuan dalam pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan kinerja berkesenian dan berkebudayaan, sehingga kehidupan warga yang semakin sejahtera mengalami keseimbangan kehidupan.
Dikatakan, PKB mulai berubah sebagai “pasar malam” kalau tidak salah di era kepemimpinan IB.Oka. Banyak pengamat telah mengingatkan kecenderungan yang mulai keluar dari idealisme awalnya.
Menurutnya, dengan berjalannya waktu, PKB menjadi sesuatu yang rutin, kehilangan greget, elan vitalitas sebagai momentum untuk menghasilkan karya-karya “master piece”.
Dikatakan, belakangan menjadi promosi alat politik kekuasaan, citra kekuasaan yang peduli dengan kesenian, tetapi pada hakekatnya tidak punya kepedulian -ignorance-.
” Ini hanya jepedulian semu, sebatas kepentingan pencitraan politik. Kontras, bertolak belakang dengan idealisme sang penggagas Gubernur Mantra. Sangat disayangkan. Fenomena apa ini?. Kepemimpinan yang a historis, tidak peduli dengan jejak kepemimpinan sebelumnya,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

