Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.
Bali di ambang senja Peradaban dengan sejumlah indikasinya, pemimpin formal dan informal tidak bisa lagi dijadikan panutan karena kemelekatan kepentingan personal yang nyaris tak terhingga. Kedua, kerja politik yang secara normatif mulya, membawa amanah kepentingan publik, sudah begitu kumuh dan kotor akibat “dasa muka” perbuatan: korupsi, manipulasi dengan politik uang yang tak terhingga. Ketiga, karena kondisi pertama dan kedua, Gumi Bali “benyah latig” di lingkungan alam, sosial kultural, kemunafikan, keserakahan, kebohongan, caci maki dan fitnah plus rasa iri hati yang “tak ketulungan”. Masyarakat terpecah mengalami polarisasj, bersamaan dengan tingginya gangguan jiwa plus bundir. Krama Bali terpojok secara budaya, dengan “selimgan” kehidupan glamor dari menjual warisan, utang menumpuk, tetapi kontrasnya ego dilipat-gandakan.
Krama Bali tidak berharap banyak dari pemerintah dalam menjalankan amanat konstitusi tentang: kesejahteraan bersama, keadilan, persamaan di hadapan hukum. Banyak pengusaha UMKM sebatas “sapi perah” dari kekuasaan yang korup.
Tidak ada lagi tempat mengadu, :misa-misaang iban” untuk bisa bertahan hidup di tengah ekonomi yang semakin sulit.
Tantangan krama Bali dalam menyongsong perubahan, menyebut beberapa, pertama, lawan politik uang dan sejenisnya, tumbuhkan kesadaran bersama, jangan hanya dengan beberapa lembar uang Rp.100 ribu, masa depan kita bersama digadaikan selama 5 tahun ke depan. Kedua, setiap upaya politisasi simbol adat, budaya dan agama mesti dilawan, karena melahirkan ketergantungan, budaya “mengemis” bertentangan ciri otentik Desa Pakraman yang mandiri, dari setiap manuver politik bisa punya potensi “ngeletehin” Desa Pakraman. Ketiga, bagi generasi genzi, pemimpin Bali di masa depan, diskusi tentang kecerdasan berpolitik, berpolitik dengan nilai, kelakuan utama dalam politik -political virtue- menjadi kekuatan penekan, pembentukan opini publik , masuk arena politik praktis, untuk meminimalkan premanisme politik dalam lanskap politik Bali.
Sejumlah tantangan bagi krama Bali terutama generasi mudanya untuk menciptakan masa depan, dengan meminimalkan: pemimpin publik yang tidak kompeten, yang melahirkan kepemimpinan auto pilot, pemimpin “apang kuala ada”, proses premanisme yang “busuk” dalam rekrutment politik dapat diminimalkan.

