Properti Komersial Bali Triwulan I 2026 Melemah, Harga Hotel Turun Tajam

0
47

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Indeks Harga Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan I 2026 mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan laporan Bank Indonesia Provinsi Bali, indeks tercatat terkontraksi sebesar 5,85 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 6,81 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan triwulan IV 2025 yang masih mencatat pertumbuhan sebesar 0,68 persen (yoy), meski secara kuartalan juga mengalami kontraksi sebesar 3,16 persen (qtq).

Penurunan harga properti komersial di Bali terutama dipengaruhi oleh koreksi harga pada segmen perhotelan yang turun sebesar 6,27 persen (yoy) dan ritel sewa yang melemah 0,17 persen (yoy).

Sementara itu, harga apartemen sewa dan perkantoran sewa justru mengalami kenaikan masing-masing sebesar 20,27 persen (yoy) dan 1,46 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan bahwa tekanan pada sektor hotel terjadi akibat meningkatnya kompetisi dan tingginya sensitivitas wisatawan domestik terhadap harga.

Selain faktor penyesuaian harga, pelemahan sektor properti komersial Bali juga dipengaruhi faktor musiman. Hal itu tercermin dari Indeks Permintaan Properti Komersial Provinsi Bali triwulan I 2026 yang terkontraksi sebesar 9,27 persen (yoy).

Penurunan permintaan terjadi pada segmen perkantoran sewa sebesar 14,91 persen (yoy), apartemen sewa sebesar 5,99 persen, serta hotel sebesar 15,02 persen (yoy).

Pada sektor perkantoran sewa, penurunan dipicu perubahan preferensi penyewa yang kini lebih memilih ruang kerja fleksibel dengan biaya operasional lebih efisien.

Sementara pada apartemen sewa, penyewa cenderung memilih masa tinggal lebih singkat, dari sebelumnya 6–12 bulan menjadi hanya 1–2 bulan, karena banyaknya pilihan vila dan resort dengan fasilitas lebih beragam.

Di sektor hotel, penurunan permintaan dipengaruhi ketimpangan distribusi tamu antar pelaku usaha, berkurangnya wisatawan domestik dari sektor pemerintahan, serta penurunan kunjungan wisatawan mancanegara akibat konflik geopolitik global.

Baca Juga :  Wujud Terimakasih Terhadap Alam,  Festival Tumpek Wariga Dibuka

Meski demikian, segmen ritel sewa justru menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 13,49 persen (yoy). Pertumbuhan ini didorong masuknya sejumlah gerai franchise internasional di sektor food and beverages (F&B) serta collectible and hobbies.

Di sisi lain, pasokan properti komersial Bali masih terjaga kuat. Indeks Pasokan Properti Komersial pada triwulan I 2026 meningkat sebesar 4,48 persen (yoy).

Peningkatan pasokan terutama terjadi pada segmen ritel sewa sebesar 10,74 persen (yoy) dan hotel sebesar 2,35 persen (yoy). Pada sektor ritel, kenaikan dipicu ekspansi pelaku usaha yang menyasar segmen ekonomi kelas atas. Sementara sejumlah hotel berbintang tetap melakukan penambahan kamar sebagai strategi jangka panjang untuk mengantisipasi prospek kunjungan wisatawan ke Bali.

Bank Indonesia menegaskan akan terus mendukung pertumbuhan properti komersial yang berkualitas melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan properti komersial sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang berkelanjutan.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here